Senin, 05 Maret 2012

KAJIAN SASTRA KONFLIK EKSTERNAL ANTARA TOKOH KAKEK DAN NENEK DALAM NASKAH DRAMA “PADA SUATU HARI” KARYA ARIFIN C. NOER


KAJIAN SASTRA
KONFLIK EKSTERNAL ANTARA TOKOH KAKEK DAN NENEK DALAM NASKAH  DRAMA “PADA SUATU HARI” KARYA ARIFIN C. NOER





 











Kelompok 4
1.       Alfanita Zuraida
2.       Lailatul Rofi’ah K.W.
3.       Hikmah Oky Pravitasari
4.       Inna Hamida Z






PROGRAM KEPENDIDIKAN
DENGAN KEWENANGAN TAMBAHAN (KKT)
PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
2012


KONFLIK EKSTERNAL ANTARA TOKOH KAKEK DAN NENEK DALAM NASKAH DRAMA “PADA SUATU HARI” KARYA ARIFIN C.NOER
A.  Pengantar
Konflik dalam sifat manusia merupakan sumber pokok dari drama”
-Brander Matthews-
Kata “drama” berasal dari bahasa Yunani draomai yang berarti berbuat, berlaku, bertindak, beraksi, dan sebagainya. Ada beberapa pengertian yang dirumuskan oleh banyak ahli di bidang drama. Menurut Aristoteles, drama adalah tiruan (imitasi) dari action. Menurut Moulton, drama adalah hidup yang dilukiskan dengan gerak (life presented action). Menurut Ferdinand Brunetierre, drama haruslah melahirkan kehendak manusia dengan action. Menurut Balthazar Verhagen, drama adalah kesenian yang melukiskan sifat dan sikap manusia dengan gerak. Menurut Dietrich, drama adalah cerita konflik manusia dalam bentuk dialog, yang diproyeksikan dengan menggunakan percakapan dan action pada pentas di hadapan penonton (audience). Sedangkan Nadjid (2009:18) mendefinisikan drama sebagai karya sastra yang mengungkapkan cerita melalui dialog para tokoh. Dalam artikel ini, drama adalah sebuah lakon atau cerita berupa kisah kehidupan dalam dialog dan lakuan tokoh berisi konflik manusia.
Drama merupakan cerita tentang konflik manusia. Kita tidak bisa memahami sebuah drama sampai kita tahu kapan, mengapa, dan bagaimana konflik manusia. Drama dirancang untuk penonton dan bergantung pada komunikasi lakon-lakon dalam drama itu sendiri. Jika drama tidak komunikatif, maksud pengarang, pembangun respon emosional tidak akan sampai (Dietrich, 1953:4). Nadjid (2009:18) menyatakan bahwa drama mempunya dua kekhasan yaitu sebagai naskah dan untuk dipentaskan. Artikel ini akan membahas drama sebagai naskah, bukan untuk dipentaskan. Dalam mempelajari naskah drama dilakukan dengan cara mempelajari dengan seksama kata-kata, ungkapan, kalimat, atau pernyataan tertentu yang dipergunakan oleh pengarang dalam naskah drama yang ditulisnya.
Dalam sejarah perkembangannya, drama di Indonesia dibagi atas lima periode yaitu periode drama Melayu-Rendah, periode drama Pujangga Baru, periode drama Zaman Jepang, periode drama sesudah kemerdekaan dan periode drama mutakhir. Dalam Periode Melayu-Rendah, penulis lakonnya didominasi oleh pengarang drama Belanda peranakan dan Tionghoa peranakan. Dalam Periode Drama Pujangga Baru lahirlah Bebasari karya Roestam Effendi sebagai lakon simbolis yang pertama kali ditulis oleh pengarang Indonesia. Dalam Periode Drama Zaman Jepang, setiap pementasan drama harus disertai naskah lengkap untuk disensor terlebih dulu sebelum dipentaskan. Dengan adanya sensor ini, di satu pihak dapat menghambat kreativitas, tetapi di pihak lain justru memacu munculnya naskah drama. Pada Periode Drama Sesudah Kemerdekaan, naskah-naskah drama yang dihasilkan sudah lebih baik dengan menggunakan bahasa Indonesia yang sudah meninggalkan gaya Pujangga Baru. Pada saat itu penulis drama yang produktif dan berkualitas baik adalah Utuy Tatang Sontani, Motinggo Boesye dan Rendra. Pada Periode Mutakhir, peran Taman Ismail Marzuki (TIM) dan Dewan Kesenia Jakarta (DKJ) menjadi sangat menonjol karena terjadi pembaharuan dalam struktur drama. Pada umumnya tidak memiliki cerita, antiplot, nonlinear, tokoh-tokohnya tidak jelas identitasnya, dan bersifat nontematis. Penulis-penulis dramanya yang terkenal antara lain Rendra, Putu Wijaya, Riantiarno, dan Arifin C. Noer.
Salah satu penulis lakon drama periode mutakhir adalah Arifin C. Noer. Arifin C. Noer merupakan penulis naskah drama juga sutradara yang beberapa kali memenangkan Piala Citra untuk penghargaan film terbaik dan penulis skenario terbaik. Naskah karyanya, Lampu Neon atau Nenek Tercinta, telah memenangkan sayembara Teater Muslim tahun1987. Saat berkuliah di Universitas Cokroaminoto, ia bergabung dengan Teater Muslim yang dipimpin Mohammad Diponegoro. Ia kemudian hijrah ke Jakarta dan mendirikan Teater Kecil pada tahun 1968. Naskah lakon Kapai-Kapai yang ditulis tahun 1970, terpilih sebagai salah satu karya dalam antologi seratus tahun drama Indonesia yang diterbitkan Yayasan Lontar, diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dengan judul Moths. Selain Kapai-kapai, ada beberapa naskah drama yang ditulis pria kelahiran cirebon ini antara lain Kisah Cinta, Matahari di Sebuah Jalan Kecil, dan Pada suatu hari. Pada suatu hari inilah naskah yang akan dibahas dalam artikel ini.
Pada Suatu Hari menceritakan tentang dua orang Kakek dan Nenek yang hidup bahagia di sebuah rumah dengan hanya ditemani Joni, pembantu mereka. Dua anaknya, Novia dan Nita telah berumah tangga dan hidup terpisah dengan mereka. Suatu hari tokoh Nenek marah pada tokoh Kakek karena seorang janda bernama Nyonya Wenas yang ternyata adalah mantan pacar tokoh Kakek. Saat Nyonya Wenas datang, tokoh Joni membuat minuman kesukaan Nyonya Wenas dan mengatakan bahwa tokoh Kakeklah yang telah menceritakan berbagai kesukaan Nyonya Wenas pada tokoh Joni. Melihat dan mendengar hal ini, tokoh Nenek pun marah pada tokoh Kakek. Klimaks konflik ini terjadi ketika Nenek tidak mau menerima penjelasan Kakek tentang hubungannya dengan Nyonya Wenas. Kakek menjelaskan bahwa antara dirinya dengan Nyonya Wenas sudah tidak pernah terjadi apa-apa lagi. Akhirnya, tokoh Nenek ingin bercerai dengan tokoh Kakek.
Penulis memilih drama ini karena konflik dalam drama ini menarik. Konflik rumah tangga ini bukan terjadi pada pasangan yang baru menikah atau menikah selama beberapa tahun, namun ini terjadi pada pasangan yang sudah berusia lanjut dan telah menikah selama 50 tahun. Konflik dalam drama ini juga terlihat lebih hidup karena adanya tokoh Nyonya Wenas yang merupakan pacar Tokoh Kakek pada saat muda.

B.  Konflik dalam Drama
Meredith (Nurgiyantoro, 2007:122) menyatakan bahwa konflik adalah sesuatu yang tidak menyenangkan yang terjadi dan atau dialami tokoh-tokoh dalam cerita. Yang jika (tokoh-tokoh) itu memiliki kebebasan untuk memilih, ia (mereka) tidak akan memilih peristiwa itu menimba dirinya. Wellek dan Warren (Nurgiyantoro, 2007:122) menjelaskan bahwa konflik adalah sesuatu yang dramatik, mengacu pada pertarungan antara dua kekuatan yang seimbang dan menyiratkan adanya aksi dan aksi balasan. Konflik artinya dengan demikian, dalam pandangan kehidupan yang normal wajar faktual artinya bukan dalam cerita artinya bukan sesuatu yang menyenangkan (Nurgiyantoro, 2007:122). Jadi konflik adalah pertentangan yang yang terjadi antara tokoh dengan dirinya sendiri, tokoh dengan orang lain, dan tokoh dengan lingkungannya yang sifatnya  tidak menyenangkan.
Nurgiyantoro (2007:123) menyatakan bahwa peristiwa dan konflik biasanya berkaitan erat, dapat saling menyebabkan terjadinya satu dengan yang lain. Bahkan, konflik pun hakikatnya peristiwa. Ada peristiwa tertentu yang dapat menimbulkan terjadinya konflik. Sebaliknya, karena terjadinya konflik, peristiwa-peristiwa lain dapat bermunculan sebagai akibatnya. Konflik demi konflik yang disusul oleh peristiwa demi peristiwa akan menyebabkan konflik semakin meningkat. Konflik yang telah sedemikian meruncing sampai pada titik puncak disebut klimaks.
Dalam pembagiannya, Staton (Nurgiyantoro, 2007:124) membagi konflik menjadi dua yaitu konflik eksternak dan konflik internal. Penjelasannyasebagai berikut
1.    Konflik eksternal
Konflik eksternal adalah konflik yang terjadi antara seorang tokoh dengan sesuatu yang ada di luar dirinya, mungkin dengan lingkungan alam atau mungkin dengan manusia. Konflik eksternal dibagi menjadi dua yaitu konflik fisik dan konflik sosial. Konflik fisik adalah konflik yang yang terjadi antara perbenturan tokoh dengan lingkungan alam sedangkan konflik sosial adalah konflik yang disebabkan adanya kontak sosial antarmanusia, atau masalah-masalah yang muncul akibat adanya hubungan antarmanusia.
2.    Konflik Internal
Konflik internal adalah konflik yang terjadi dalam hati, jiwa seorang tokoh (atau tokoh-tokoh) cerita. Jadi, ia merupakan konflik yang dialami oleh manusia dengan dirinya sendiri.
Drama dibangun dari konflik, karakter manusia adalah bahan dasarnya. Drama adalah cerita tentang tokoh manusia dalam konflik. Pertunjukan yang dramatis harus menggambarkan kehidupan dari tokoh-tokohnya (Dietrich,1953:25). Tidak ada drama tanpa pelaku, bagaimanapun bentuk dan jenis drama tersebut. Secara umum dapat dikatakan bahwa peristiwa-peristiwa yang ditampilkan dalam karya sastra selalu diemban atau terjadi atas diri tokoh-tokoh tertentu. Pelaku yang mengemban peristiwa dalam cerita, sehingga peristiwa tersebut mampu menjalin suatu cerita yang padu disebut tokoh (Maryaeni, 1992:39). Inti sebuah naskah drama terletak pada hadirnya keinginan seorang tokoh dan ia berjuang keras untuk mencapainya. Hidup bagi tokoh itu akan terasa tidak bermakna jika tujuan atau cita-cita yang ingin dicapainya itu kandas di perjalanan. Berbagai cara dia lakukan untuk memperoleh keinginan atau tujuan hidupnya (Ghazali, 2001:10). Dalam artikel ini, konflik yang akan dibahas adalah konflik eksternal menurut definisi Staton (Nurgiyantoro, 2007:124).
C.  Konflik Eksternal antara Tokoh Kakek dan Nenek dalam Lakon Drama “Pada Suatu Hari” Karya Arifin C.Noer
Menurut Staton (Nurgiyantoro, 2007:124), konflik eksternal adalah konflik yang terjadi antara seorang tokoh dengan sesuatu yang ada di luar dirinya, mungkin dengan lingkungan alam atau mungkin dengan manusia. Konflik eksternal dibagi menjadi dua yaitu konflik fisik dan konflik sosial. Konflik fisik adalah konflik yang yang terjadi antara perbenturan tokoh dengan lingkungan alam sedangkan konflik sosial adalah konflik yang disebabkan adanya kontak sosial antarmanusia, atau masalah-masalah yang muncul akibat adanya hubungan antarmanusia. Dalam konflik eksternal naskah drama Pada Suatu Hari konflik eksternal yang paling menonjol adalah konflik yang disebabkan adanya kontak sosial antarmanusia.
Konflik pertama adalah konflik ringan yang terjadi saat Nenek dan Kakek bersantai di teras. Konflik itu terjadi ketika Nenek tidak mau menyanyi untuk Kakek, sehingga Kakek mengancam dan merajuk. Hal ini dapat dilihat pada dialog nomor 17 sampai 20.
Kakek               Kau kejam. Saya sangat sedih. Saya mati tanpa lebih dulu mendengar kau menyanyi.
Nenek               Sayang, kenapa kau berfikir kesana? Itu sangat tidak baik, lagi tidak ada gunanya.  Sayang , berhenti kau berfikir tentang hal itu.
Kakek               Mati saya tidak bahagia karena kau tidak mau menyanyi. Ini memang salah saya.
  Tetapi kalau sejak dulu kau cukup mengerti bahwa saya memang sangat memainkan kau, tentu kau bisa memaafkan segala macam ejekan-ejekan saya. Tuhan, saya kira saya akan menghembuskan nafas saya yang terakhir tatkala kau sedang menyanyikan sebuah lagu ditelinga saya.
Nenek               Sayang saya mohon berhentilah kau berfikir mengenai hal itu. Demi segala-galanya berhentilah. Tersenyumlah lagi seperti biasanya.

Konflik kedua yang terjadi antara Kakek dan Nenek adalah pada saat Nyonya Wenas datang ke rumah Kakek dan Nenek. Nyonya Wenas adalah mantan kekasih Kakek saat muda dulu. Nenek menuduh Kakek mengundang mantan kekasihnya pada ulang tahun pernikahan emas mereka tanpa sepengetahuan Nenek. Hal ini  dapat dilihat pada pada dialog di bagian lima pada nomer 60 -67.
Pesuruh        Ada tamu, Nyonya besar.
Nenek           Siapa?
Pesuruh        Nyonya Wenas, Nyonya.
Nenek          (Melirik pada Kakek ) Nyonya janda itu (kepada pesuruh) Sebentar saya ke depan.Pesuruh exit.
Nenek           Kau surati dia?
Kakek          Tidak.
Nenek           Kau bohong. Bagaimana dia bisa tahu tentang pesta kita?
Kakek          Saya tidak tahu.
Nenek           Kau bohong (Exit) Demam saya mulai kambuh.

Konflik ketiga terjadi pada bagian sepuluh. Disini, terjadi perang bisu antara Kakek dan Nenek. Konflik semakin meruncing di bagian kesebelas yaitu dibuktikan pada dialog ke 123-121. Kecemburuan Nenek juga dipicu oleh tanaman kaktus yang dipelihara Kakek karena kaktus tersebut merupakan tanaman yang disukai oleh Nyonya Wenas. Berikut adalah dialognya:
SEPULUH         Perang bisu meletus antara Kakek  dan Nenek.
SEBELAS
Kakek                      Kenapa kau diam begitu?
Nenek                       diam saja.
Kakek                      Kenapa kau begitu diam?
Nenek                       Kau juga begitu.
Kakek                      Kenapa?
Nenek                       Kau juga kenapa?
Kakek                      Sayang, adalah tidak baik kita bubuhi pesta emas dengan kata-kata
                                  seru
   Nenek                      Kau sendiri yang membubuhinya. Kau rusak bunga-bunga pesta kita dengan kaktus-kaktu pacar kau.

Konflik keempat terjadi pada bagian kesebelas pada dialog 142-148. Nenek marah kepada Kakek karena sandiwara Kakek untuk berpura-pura lupa terhadap Nyonya Wenas berlebihan. Padahal, ketika Kakek bertingkah laku sopan, Nenek juga  marah. Sehingga Kakek merasa serba salah harus bertingkah laku seperti apa.
Nenek                      Onda, kita baru saja memesan minuman (menyeret) Tingkahmu berlebihan sehingga memuakkan.
Kakek                      Kausendiri yang menyuruh agar saya berlaku pura-pura tidak kenal kepada Nyonya itu.
Nenek                       Ya, tapi kau berlebihan. Kau kurang wajar.
Kakek                      Susah. Kalau saya wajar kau marah. Kalau saya berlebihan kau juga marah. Kalau saya jumput di perpustakaan kau juga marah. Saya tidak tahu bagaimana supaya kau tidak marah dan saya tidak mau marah agar kau tidak marah.
Nenek                       Pendeknya berlakulah sedikit agak sopan.
Kakek                      Saya coba.
Nenek                       Kendorkan urat wajahmu.

Konflik kelima terjadi pada dialog nomor 166-170. Konflik ini terjadi ketika Nyonya Wenas memuji kecantikan Nenek. Nenek pun membalas memuji kecantikan Nyonya Wenas, kemudian Kakek mengiyakan pujian kecantikan Nyonya Wenas tersebut sehingga Nenek merasa cemburu. Hal ini ditunjukkan dengan gerakan mata Nenek yang melotot pada Kakek.
Janda                                   Terus terang saya sangat kagum pada Nyonya. Saya tidak pernah melihat Nyonya bertambah tua.
Nenek                       Nyonya berlebihan.
Janda                                   Saya sungguh-sungguh, Nyonya.
Nenek                       Kalau begitu saya pun berterus terang. Nyonya semakin tua semakin cantik.
Kakek                       Memang (Nenek melotot). Maksud saya, maksud saya ketuaan itu hanya timbul apabila kita merasa tua. Adapun tua itu sendiri hanya hasil dari suatu penjabaran, hanya sayangnya penjabaran tersebut dilakukan oleh waktu, sehingga menyebabkan kurang enak kita terima konsekwensinya.
 
Konflik keenam terjadi ketika Nenek menuduk Kakek telah bersekonggol dengan Joni untuk menghidangkan minuman kesukaan Nyonya Wenas yakni es susu. Kecemburuan ini ditanggapi oleh Kakek dengan tantangan, yakni memanggil Joni sebagai saksi. Bukti konflik ini adalah sebagai berikut;
Nenek                       Bukan fantastis. Tapi memang dia tokoh fantasi kau bahkan sampai saat kau tua (Menangis) Sengaja kau suruh Joni menyiapkan segera minuman kesukaannya begitu dia datang.
Kakek                      Siapa? Saya? Menyuruh Joni? Minuman apa?
Nenek                       Kau menyuruh Joni membuat es susu begitu Nyonya janda itu datang.
Kakek                      Tidak. Saya tidak menyuruh Joni.
Nenek                       Kau lakukan itu ketika saya sedang menemui dia tadi ketika kau menyingkir dari dari sini tadi dan kemudian kau sembunyi ke kamar baca.
Kakek                      Tidak, sayang, dari sini tadi saya langsung ke kamar baca dan kemudian saya asyik membaca mengenai para psikologi. Ketika kau datang tepat saya sampai pada baris-baris mengenai telepati. Saya ingat betul.
Nenek                       Kau bohong.
Kakek                      Kalau tidak percaya kau boleh memanggil Joni (Berseru) J o n i !

Konflik memuncak atau menjadi klimaks terjadi ketika Nenek menangis karena sudah tak tahan lagi dengan kecemburuan yang membakar hatinya. Kakek berusaha membujuk Nenek tapi tangis Nenek semakin keras. Nenek malah semakin merajuk sampai pada titik puncak konflik, Nenek bersikeras meminta cerai kepada Kakek pada hari itu juga. Bukti teks percakapan terdapat pada bagian 13 nomor 232 sampai 275.
TIGA BELAS
          S u n y i .
Nenek                       Berkomplot.
Kakek                      Tidak baik mengada-ada.
Nenek                       Bahkan kau diam-diam memelihara kaktus dalam kakus.
Kakek                      Tidak melulu kaktus tapi beberapa jenis bunga lainnya, juga……
Nenek                       tiba-tiba menangis sangat kerasnya.
Kakek                      Diamlah, sayang. Kalau kau diam saya akan menyanyi lagi. Diamlah. Saya akan menyanyi dua buah lagu sekaligus. Sayang diamlah. Lagi jangan terlalu keras kau menangis nanti kau batuk kalau batuk tenggorokan bisa luka dan suara bisa serak.
Selain itu apa kata anak-anak nanti kalau mereka datang. Sayang. Atau kau mau saya membaca kitab suci? Dongeng? Saya akan membaca bagaimana nabi Nuh melayani singa betina yang bunting, sementara seekor kera sakit enfluensa.
Nenek                       Biarpun kau dukung saya dari sini ke kamar saya tidak akan diam.
Kakek                      Baiklah, saya tidak akan berbuat apa-apa tapi kau mau diam.

Nenek                       Kalau kau tidak berbuat apa-apa saya akan menangis lebih keras lagi.
Kakek                      Tuhanku,kepala saya Cuma satu dan puyeng. Kalau saja saya punya tiga kepala barangkali saya tahu apa yang harus saya perbuat agar kau diam. Tapi kepala saya Cuma stud an tangis kau memenuhi kepala saya dengan sejuta lalat hijau. Tuhan-ku.
Nenek                       Saya akan terus menangis. Biar geledek menyambar saya tetap menangis.
Kakek                      Katakan bidadariku apa yang……..
Nenek                       Saya bukan bidadari.
Kakek                      Katakan malaikat ku.
Nenek                       Saya bukan malaikat!
Kakek                       Katakan dewiku………..
Nenek                       Saya bukan dewi.
Kakek                      Terserah siapa kau tapi katakana………..
Nenek                       Saya istrimu!
Kakek                      Ya, katakan istriku apa yang……..
Nenek                       Saya bukan istrimu!
Kakek                      Tuhan-ku.
Nenek                       Kau kejam. Kau bagaikan patung perunggu dengan hati terbuat dari timah. Kau tidak punya perasaan. Kau nodai percintaan kita dengan perempuan berhati kaktus. Hatimu ular cobra. Kejam! Kejam! Tuhan, masukkan dia ke dalam neraka sampai kukunya hangus.
Kakek                      (Menangis) Doamu jahat.
Nenek                       Biar
Kakek                      Kau ingin saya masuk neraka?
Nenek                       Bukan. Kerak neraka. Neraka paling neraka.
Kakek                      Kau kejam dank Kau sendiri?
Nenek                       Ke sorga.
Kakek                      Kau egoistis.
Nenek                       Biar.
Kakek                      Kenapa kita tidak sama-sama satu tempat?
Nenek                       Tidak sudi.
Kakek                      Kau rupanya ingin kita pisah.
Nenek                       Ya, saya ingin kita pisah tapi kau tidak mengerti.
Nenek                       …..Saya ingin kita cerai.
Kakek                      Cerai?
Nenek                       Ya, cerai. Hari ini juga kita ke pengadilan. Kita cerai.
Kakek                      Sayang, kau harus panjang berfikir untuk sampai ke sana.
Nenek                       Kalau saya panjang fakir saya takut kita nanti tidak jadi cerai.
Kakek                      Tapi kau harus berfikir…..
Nenek                       Dalam soal perceraian tidak perlu fikiran tapi perasaan seperti halnya soal percintaan. Pokoknya kita harus cerai.
Hari ini juga kita harus selesaikan surat-suratnya.
Kakek                      Sekarang sudah terlalu siang dan saya kira kantor-kantor………
Nenek                       Kalau kantor-kantor tutup besokpun jadi, tapi mulai malam ini saya tidak sudi tidur satu kamar bersama kau.
Kau boleh tidur di kamar baca di ata kitab-kitabmu bersama rayap-rayapnya.

Konflik menurun sampai pada tahap penyelesaian adalah ketika Nenek memutuskan  untuk membatalkan meminta cerai kepada Kakek karena salah seorang dari anak mereka yang bernama Novia ternyata sedang mengalami pertengkaran rumah tangga dengan suaminya. Novia meminta cerai kepada suaminya yang berprofesi sebagai seorang dokter karena kecemburuan kepada pasien wanita suaminya. Sebagai seorang ibu, sang Nenek terketuk hatinya untuk mengurungkan keinginannya bercerai dengan Kakek karena sang Nenek ingin memberikan contoh yang baik kepada Novia. Akhirnya Nenek dan Kakek berbaikan dan rumah tangga anak-anaknyapun terselamatkan dari perceraian. Bukti teks tercakapan terdapat pada bagian 20 nomor 372 sampai 445 dan 503 sampai 510.

DUA PULUH
Muncul Nenek dan Kakek .
Nenek   (Menubruk Novia sambil menangis) Novia, sayang, kau jangan suka membaca roman-roman picisan. Kau bisa bayangkan sendiri apa jadinya isi kepalamu dengan roman-roman seperti itu. Dengan membaca cerita-cerita cengeng seperti itu kau sama dengan mengisi usus besarmu dengan minuman keras. Sekali-kali tentu kau boleh, tapi kalau setiap hari kau minum arak sama dengan memperpendek usiamu sendiri.
Nenek    ………….Novia, ibu yakin kau telah terpengaruh roman-roman sampah itu sehingga hidup bagimu tak ubahnya seperti mainan peranan belaka. Bacalah Romeo Juliet. Bacalah tentang kesetiaan cinta, dan singkirkan bacaan yang mengajarkan kebencian dan perceraian. Kau kira perceraian itu jalan cuci?
Kakek   Kau kira kau akan menjadi betina yang jantan kalau kau berhasil bercerai dengan suamimu?
Nenek   Jangan kau sangka perasaanmu dan kecemburuanmu akan menuntun hidupmu kea rah kebahagiaan.
Nita                   Juga jangan lupakan Meli dan Feri.
Kakek   Hanya karena soal cemburu, soal-soal roman picisan rumah tangga kau bongkar? Kenapa tidak kandang ayam saja yang kau bongkar yang sudah jelas sudah tapuh itu?
Nenek   Novia, sayang, tidak satupun kebaikan yang terselip dalam niatmu untuk bercerai dari suamimu. Lagi tidakkah kau dapat membayangkan kembali kebaikan-kebaikan suamimu seperti katamu dulu, ketika kau mendesak ibu agar menerima lamaran? (Novia akan bicara) tidak perlu kau bicara apa-apa.
Kakek    Ya, tidak perlu sebab, kata-kata seru saja yang kau punya sekarang.
Nenek   Kau dalam keadaan marah. Dalam keadaan marah lebih baik orang diam, dan lebih baiklagi kalau kau mau mendengarkan sayan orang lain.
Kakek   Ya, saya kira begitu. Ibumu sebenarnya juga sedang marah tetapi tak sepatahpun kata kata yang diucapkan.
Nenek                Ban ini, kopor-kopor iniapa perlu artinya? Main-main kau sudah keterlaluan.
Novia                 Saya tidak main-main, bu, saya sungguh-sungguh.
Nenek   Lebih jelek lagi (menangis lagi) Tuhanku, apa jadinya nanti kalau kau jadi berpisah dengan Vita yang dulu kau agung-agungkan? Apa jadinya hidupmu?
Nita       Apa jadinya anak-anakmu? Meli dan Feri akan kehausan cinta sebab mereka tidak akan lengkap menerima keutuhan cinta.
Nenek   Fikirkan baik-baik, sayangku. Singkirkan kegelapan yang dibenihkan setan cemburu.
Kakek    Apa kira surat talak itu cek?
Nenek   Tuhanku, limpahilah anak saya dengan cahaya kasih Mu. Novia, tidakkah kau bisa menimba pelajaran dari pengalaman-pengalaman ibu dan ayahmu?
Kakek    Ayah dan ibumu berumah tangga selama setengah abad, tanpa sedikitpun membiarkan setan talak bertelur dalam kamar tidurnya, bahkan tidak dalam dapurnya.
Nenek                Kami bagaikan Adam dan Hawa.
Kakek    Apa kau pernah mendengar Hawa minta talak kepada Adam? Berkacalah kepada ibu dan Ayahmu. Kamilah pasangan abadi dunia dan akhirat.
Nenek                Kami bagaikan Sam Pek dan Eng Tay.
Kakek   Pronocitro dan Roro Mendut.
Nenek                Di sahara kami adalah Leila dan Qais.
Kakek   Kau sendiri tahu betapa setianya Layonsari sampai-sampai ia bunuh diri demi cintanya kepada Jayaprana.
Nenek                Bacalah semua itu, sayang. SEmua itu pusaka Nenek moyang kita yang manjur.
Kakek   Demi menegakkan tiang-tiang rumah tangga kita, berfikir dengan tenang.
Nita       Dan demi kebahagiaan anak kita. Adikku, kau begitu bahagia dengan Meli dan Feri dan papanya Vita kenapa kau sebodoh itu mau memuaskan kebahagiaan itu? Tidakkah kau tahu bahwa diam-diam saya sebagai kakakmu selalu merasa iri karena saya dan suami saya tidak pernah diberkahi anak?
Nenek                Belum. Nita.
Kakek    Kau tidak boleh berkata begitu.
Novia                 Tapi bu.
Nenek                Tidak, jangan bicara.
Kakek   Sekarang kau tidak akan bicara kecualimarah-marah.
Nenek                Marah-marah hanya menghasilkan kerut muka.
Kakek    Ibumu juga tidak suka marah.
Nenek   Sekali-kali tentu saja boleh sekedar olah raga urat muka, tapi kalau terlalu sering bisa membuatpenyakit.
Nita       Dan anak-anakmu, Novia, anak-anakmu? Akan kau biarkan mereka kehausan cinta hanya demi kepuaan amarahmu? Egoistis?
Novia    Saya tidak akan bicara apa-apa, saya hanya akan menjelakan panjang lebar. Duduk perkaranya.
Nenek                Bicaralah.
Kakek   Apa persoalannya.
Nita                   Sudahlah, kita semua sudah mengerti.
Nenek                Biarlah dia jelaskan semua, Nita.
Kakek   Bagaimana kita bisa mengerti tanpa lebih dulu mendengar penjelasannya?
Novia                 Vita mau kawin lagi.
Nita                   Apa kau bilang?
Kakek    Dia bilang apa?
Nenek   Apa kau yakin itu kalimatmu? Saya yakin kalimat itu kau pungut dari salah satu buku picisanmu (berseru) Joni! (tak ada sahutan)
Nita                   Bustam !
Novia                 Memet !
Kakek   Joni!
Joni                   Ya, tuan besar.
Nita                   Air dingin, Bustam!
Novia                 Cepat, Met!
Joni                   Sebentar, nyonya.
Nita                   Permainanmu terlalu kasar, Novia, kalau kau teruskan ibu bisa pingsan.
Novia                 Maksud saya, maksud saya, Vita serong.
Nenek                Dari halaman berapa kau pungut kalimat itu? (berseru) Joni!
Novia                 Met !
Kakek   Joni !
Nita                   Bus !
Joni tergesa membawa empat gelas air dingin, mereka berempat sama-sama minum
Nita                   Ganti kalimatmu, Novia.
Kakek    Ya, kalau kau tidak ingin perut kamu kembung oleh air dingin.
Nenek                Cari halaman lain yang lebih lembut kata-katanya.
Novia                 Ibu, saya cemburu.
Nenek                Nah, itu baik. Cemburu itu suci. Hanya dengan modal itu kaumampu bercinta.
Novia                 Tapi vita keterlaluan.
Kakek    Barangkali cemburu kau yang keterlaluan.
Nita                   Novia, cemburu pada salah seorang pasien Vita.
Nenek   Novia, rupanya kau beluim menyadari bahwa usapan tangan seorang dokter lembut dan suci seperti lembut usapan orang-orang suci atau bahkan nabi. Dokter-dokter bekerja atas tugas suci. Merekalah yang paling nyata mengamalkan firman-firman Tuhan. Kalau kau mau mengerti para dokterlah yang paling banyak tahu tentang penderitaan manusia sepanjang sejarahnya. Merekalah yang berjuang dengan nyata agar kita bisa mengecap hidup ini bertambah baik.
Kakek   Merekalah menghibur kita, menyembuhkan kita dari segala macam luka yang ditatahkan sang kala.
Nenek               Saya jadi terharu.
Kakek   Kasihan Vita.
Nenek                Anak sebaik itu dicurigai.
Kakek   Seperti nabi-nabi yang diludahi oleh umatnya sendiri.
Nenek                Kau kejam, Novia Abujahal kau.
Kakek   Judas kau............................

Kakek    Betapapun akan saya marahi Vita. Akan saya katakana bahwa sebagai dokter dia kurang mempertimbangkan kemungkinan effek psikologis dari permainannya. Apa dia tahu bahwa setiap kali saya harus mengatur peredaran darah saya sedemikian rupa di depan aquarium sambil mendengarkan lagu-lagu yang paling lembut agar kesehatan saya terpelihara? Dengan permainan baru saja, sama dengan dia meledakkan granat di atas batok kepala saya. Apa dia fakir dia mampu mengobati kalau saya sakit keras? Barang kali dia lupa bahwa dia dokter muda. Dokter muda jelas baru tahu tentang ilmu kedokteran seninya. Untuk ia, ia perlu bergaul dengan alam. Banyak tingkah. Coba……
Novia    Pak, Ibu, saya permisi pulang.
Kakek   Tanpa minta maaf? Pulanglah dan bilanglah pada suamimu besok dia harus menghadap kemari.
Novia                Pulang dulu, bu.
Nenek                Jangan lupa semua nasehat ibu.
Novia                 Ya, bu.
Joni                   Polisi, Nyonya.
Nita                   Sebentar, saya ke muka.

Jadi konflik eksternal yang terjadi antara Kakek dan Nenek adalah konflik yang berlatar- belakang kecemburuan Nenek terhadap Kakek yang dipicu oleh kedatangan janda bernama Nyonya Wenas, serta adanya peristiwa kaktus dan es susu yang merupakan benda-benda kesukaan dan kenangan bersama Nyonya Wenas sehingga terjadi konfik klimaks berupa permintaan cerai Nenek kepada Kakek.
Konflik-konflik yang telah dijelaskan di atas menjadi sangat menarik karena kecemburuan itu datang bukan pada saat tokoh Kakek dan tokoh Nenek baru menjalani bahtera rumah tangga, namun 50 tahun setelah mereka menikah. Sebelum Nyonya Wenas datang, Kakek yang telah pensiun banyak menghabiskan waktunya di rumah dengan kegiatan yang rekreatif. Setelah Nyonya Wenas datang, kecemburuan pun timbul dalam hati tokoh Nenek yang menyebabkan konflik antarpasangan terjadi. Inilah konflik yang terjadi pada orang lanjut usia yang sedang melakukan penyesuaian dalam sebuah kehidupan rumah tangga. Ternyata konflik tidak hanya terjadi pada pasangan yang baru atau beberapa tahun menikah, konflik juga dapat terjadi pada pasangan yang usia pernikahannya telah mencapai usia 50 tahun.
D.  Penutup
Meredith (Nurgiyantoro, 2007:122) menyatakan bahwa konflik adalah sesuatu yang tidak menyenangkan yang terjadi atau dialami tokoh-tokoh dalam cerita. Salah satu konflik menurut Staton (Nurgiyantoro, 2007:124) adalah konflik eksternal yaitu konflik yang terjadi antara seorang tokoh dengan sesuatu yang ada di luar dirinya, mungkin dengan lingkungan alam atau mungkin dengan manusia. Dalam konflik eksternal naskah drama Pada Suatu Hari konflik eksternal yang paling menonjol adalah konflik yang disebabkan adanya kontak sosial antarmanusia.
Konflik eksternal yang terjadi antara Kakek dan Nenek pada naskah adalah konflik yang berlatar belakang kecemburuan Nenek terhadap Kakek yang dipicu oleh kedatangan janda bernama Nyonya Wenas yang dulu adalah mantan kekasih Kakek. Konfik ini juga ditimbulkan adanya peristiwa kaktus dan es susu yang merupakan benda-benda kesukaan dan kenangan bersama Nyonya Wenas sehingga terjadi konfik klimaks berupa permintaan cerai Nenek kepada Kakek. Konflik-konflik yang telah dijelaskan di atas menjadi sangat menarik karena kecemburuan itu datang bukan pada saat tokoh Kakek dan tokoh Nenek baru menjalani bahtera rumah tangga, namun 50 tahun setelah mereka menikah. Ternyata konflik tidak hanya terjadi pada pasangan yang baru atau beberapa tahun menikah, konflik juga dapat terjadi pada pasangan yang usia pernikahannya telah mencapai usia 50 tahun.








Daftar Pustaka

http://id.wikipedia.org/wiki/Arifin_C._Noer


Tidak ada komentar:

Posting Komentar