Senin, 05 Maret 2012

KAJIAN SASTRA ANALISIS UNSUR BAWAH SADAR NOVEL “MERAHNYA MERAH” KARYA IWAN SIMATUPANG


KAJIAN SASTRA
ANALISIS UNSUR BAWAH SADAR NOVEL “MERAHNYA MERAH” KARYA IWAN SIMATUPANG



Kelompok 1
1.              Alfanita Zuraida
2.       Hikmah Oky Pravitasari
3.            Lailatul Rofi’ah K.W.
4.              Inna Hamida








PROGRAM KEPENDIDIKAN DENGAN KEWENANGAN TAMBAHAN (KKT)
PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
2012


ANALISIS UNSUR BAWAH SADAR NOVEL “MERAHNYA MERAH” KARYA IWAN SIMATUPANG

Iwan Martua Dongan Simatupang atau yang dikenal dengan nama Iwan Simatupang merupakan salah satu penulis Indonesia yang lahir di Sibolga, Sumatra Utara pada tahun 1928 dan meninggal di Jakarta pada tahun 1970. Iwan masuk Fakultas Kedokteran di Surabaya pada tahun 1953 tapi studinya tidak selesai. Pada akhir tahun 1954, dia menuju Amsterdam, Belanda untuk belajar atas beasiswa Sticusa (Stichting voor Culturele Samenwerking), bidang antropologi di Fakulteit der Letteren, Rijksuniversiteit, Leiden, lalu masuk jurusan Filsafat Barat Universitas Sorbonne, Paris, Perancis.
            Semasa hidupnya, Iwan banyak menulis drama, cerpen, dan novel. Karya-karyanya banyak dimuat di majalah Siasat dan Mimbar Indonesia mulai tahun 1952.  Dua novel  karya Iwan Simatupang,Ziarah dan Merahnya Merahbahkan pernah mendapatkan penghargaan. Ziarah mendapatkan hadiah roman ASEAN pada tahun 1977 dan Merahnya Merah mendapatkan hadiah sastra nasional pada tahun 1970. Novel terakhir inilah yang akan dibahas dalam artikel ini.
Merahnya Merah menceritakan tentang cinta segi empat antara tokoh Kita, Maria, Fifi, dan Centeng. Tokoh kita digambarkan sebagai seorang laki-laki calon rahib, dia merupakan seorang komandan, diakhir revolusi dia adalah seorang algojo pemacung kepala kepada pengkhianat-pengkhianat yang tertangkap dan sesudah revolusi dan sesudah revolusi dia masuk rumah sakit jiwa. Tokoh kita kemudian bergabung dengan komunitas gelandangan yang salah satu anggotanya adalah Maria. Maria merupakan wanita setengah baya yang dianggap “Ibu” oleh para gelandangan. Masa lalu Maria sangat kelam karena dia pernah diperkosa. Cita-citanya menjadi perawat namun pupus karena takut darah. Akhirnya Maria menjadi seorang pelayan di restoran katolik
Tokoh Maria dan tokoh kita kemudian menjalin sebuah hubungan cinta, jalinan mesra ini renggang karena adanya tokoh Fifi yang dibawa oleh tokoh Kita ke dalam komunitas Gelandangan. Tokoh Fifi digambarkan sebagai gadis berusia 14 tahunyang menjadi pelacur kelas teri agar tetap bertahan hidup. Dari awal kedatangan Fifi, Maria sudah merasa tidak suka dengan kedatangan Fifi. Setelah kedatangan Fifi, Maria yang awalnya murah senyum berubah menjadi sosok yang pemarah dan pencemburu. Hal ini disebabkan kedekatan Fifi dengan tokoh Kita. Maria akhirnya mau menerima keberadaan Fifi karena didesak oleh tokoh Kita. Maria tidak bisa berbuat apa-apa karena sikap penurutnya pada tokoh Kita.
Suatu hari, Fifi menghilang. Para gelandangan mencoba mencari Fifi kemana-mana tapi tidak berhasil menemukannya.  Hal inimenimbulkan kekecewaan dalam tokoh Centeng sebagai ketua komunitas gelandangan. Dia merasa malu dan terhina karena tidak dapat menemukan Fifi. Hal ini karena selama ini Pak Centeng selalu berhasil dalam menjalankan suatu misi. Setelah Fifi menghilang, ternyata tokoh Kita juga menghilang.Setelah itu disusl Maria yang pergi entah kemana.Pak Centeng semakin marah dan merasa terhina setelahkepergianMaria. Seluruh anggorta kelompok gelandanagn dikerahkan untuk mencari ketiga tokoh ini namun hasilnya nihil. Lagi-lagi Pak Centeng merasa terhina karena martabatnya sebagai centeng yang jagoan telah menjadi rendah. Para polisi pun kemudian dikerahkan namun tetap saja hasilnya nihil.
Tiba-tiba tokoh kita kembali muncul dalam komunitas gelandangan.Tokoh Kita menceritakan bahwa Fifi telah mati dibunuh oleh Maria karena Maria merasa cemburu oleh keberadaan Fifi dan kedekatan Fifi dengan tokoh Kita. Setelah Maria membunuh Fifi, Maria kemudian masuk biara, mengakui kesalahannya, dan mengabdikan dirinya untuk Tuhan, berharap dirinya akan diamouni. Para gelandanag terharu mendengar cerita dari tokoh Kita, namun dia juag menyalahkan tokoh Kita yang menjadi sebab kejadian itu.
Di lain pihak, Pak Centeng marah pada tokoh Kita. Dulu sebelum tokoh Kita datang ke komunitas gelandangan, komunitas mereka baik-baik saja. Bahaknam, Maria dulu adalah kekasihnya. Setelah tokoh kita datang, Maria meninggalkannya untuk bersama tokoh Kita. Krean kemarahannya sudah terlalu besar dan tak tertahankan pada tokoh Kita, Pak Centeng akhirnya menebas kepala tokoh Kita. Dalam sekali tebas, kepala tokoh kita terpisah dari badannya. Karena kenekatannya ini polisi akhirnya menembak kepala Pak Centeng.Mereka berdua tergeletak tak bernyawa dan dikuburkan dengan upacara militer yang dihadiri pejabat tinggi negara.
Objek kajian sastra ini adalah novel Merahnya Merah karya Iwan Simatupang, cetakan keenam tahun 1987, dan diterbitkan oleh Gunung Agung Jakarta. Data yang kami gunakan adalah dalam wacana yang terkandung dalam teks Merahnya Merah. Selain itu, data sekunder yang kami gunakan adalah data teori psikoanalisis Sigmund Freud untuk senjata menganalisis unsur bawah sasar atau ketidaksadaran tokoh dalam novel ini. (1) Masalah unsur bawah sadar tokoh, (2) bawah sadar latar, (3) bawah sadar alur, dan (4) makna bawah sadar Merahnya Merah sebagai sublimasi atau transformasi emosi.
Hasil dan Pembahasan
Berdasarkan analisis unsur bawah sadar tokoh novel Merahnya Merah karya Iwan Simatupang dengan kajian psikoanalisis, kenyataannya pada analisis strukturalisme, banyak mengalami penyimpangan konvensi sastra meliputi antitema, antialaur, antitokoh, antiseting, dan monolog interiour.
Pembahasan tema Merahnya Merah adalah kegelandangan manusia sebagai akibat kesunyian dan kerinduan akan nilai-nilai kebenaran. Kegelandangan tersebut dapat bermula dari kebutuhan biologis para tokoh seperti Maria, Pak Centeng, dan Fifi, sedangkan kegelandangan yang bukan merupakan cita rasa material adalah Tokoh Kita. Dorongan kesadaran sebagai manusia modern mutlak diwujudkan sebagai protes tentang hakikat dan tujuan hidup manusia disampaikan melalui pemikiran dan perenungan.
Alur novel Merahnya Merah sering disebut dengan alur inkonvensional terkesan tampak tidak teratur karena secara spontanitas dapat terjadi dalam peristiwa apa pun. Penyimpangan terhadap logika terjadi sehingga kejadian dalam novel terasa meloncat-loncat.  Irama kejadian sering tidak teratur maju-mundur dan mendadak tanpa perencanaan. Hal ini tampak jelas sejak halaman pertama yang sudah menunjukkan tumpukan persoalan dan membuat kejutan-kejutan yang dipadatkan (sejak Tokoh Kita sebelum revolusi, selama revolusi, dan sesudah revolusi). Sorot balik sering dijumpai dalam Merahnya Merah. Alur novel terasa lamban karena pengarang sering mengulur-ulur cerita sehingga menjadi panjang. Gambaran ini tampak ketika Iwan Simatupang asyik menceritakan hilangnya Fifi secara misterius dibunuh Maria yang cemburu, tiba-tiba diputus dengan sorot balik “operasi” Maria yang panjang lebar.
Penggambaran tokoh-tokoh Merahnya Merah sangat menarik karena tidak dilukiskan seperti kebiasaan yang berlaku dalam novel konvensional. Tokoh tidak digambarkan dengan hukum sebab akibat, logika, kasualitas yang senantiasa dijungkirbalikkan. Salah satu hal adalah penamaan tokoh itu tidak dipentingkan, atau disebut dengan “tokoh tanpa nama”, meskipun tidak semuanya, seorang tokoh utama hanya disebut sebagai “Tokoh Kita” dan seperangkat bekas. Tokoh antagonis hanya disebut dengan kepangkatan atau profesi, misalnya : “Centeng”, “profesor”, “pangdak”, “komandan kompi”, “pangdam”, “dokter”, “mantri polisi”, dan sebagainya. Namun, ada juga tokoh antoganis yang diberi nama seperti Maria, Fifi, dan Icih. Tokoh-tokoh ini adalah tokoh idealis yang terbuka ke segala penjuru. Mereka adalah tokoh-tokoh idealis yang tingkah lakunya sering berbenturan dengan ketidaklogisaan pembaca. Penggambaran tokoh-tokoh Merahnya Merah meskipun fiktif belaka, merupakan imajinasi pengarang.
Novelnya Merahnya Merah memakai latar atau setting tempat berupa perkampungan gelandangan, stasiun, gereja, alun-alaun, rumah sakit jiwa, perkuburan, poliklinik, dan jalan raya. Di tempat inilah, para tokoh biasa bermain melakukan aksinya. Selain itu dalam latar Merahnya Merah dilukiskan latar yang masih terdapat dalam lamunan, angan-angan, keinginan-keinginan tokoh-tokoh yang tidak terucapkan, atau dari perilaku tokoh yang tidak normal. Di dalam latar Merahnya Merah, dilukiskan keinginan Fifi mengawini Tokoh Kita kemudian hidup bersama tidak menjadi seorang gelandangan. Keinginan, bayangan, dan cita-cita Fifi tersebut akhirnya tidak menjadi kenyataan.
Dalam analisis gaya arus kesadaran gaya bahasa Merahnya Merah, pengarang menampilkan gaya arus kesadaran. Gaya ini berfungsi sebagai alat untuk memperkenalkan kehidupan batin pelakunya secara langsun, tanpa sisertai campur tangan atau komentar pengarang. Gaya arus kesadaraan memungkinkan tokoh utama Merahnya Merah menampilkan dirinya sendiri, pikirannya, melalui cakapan sehingga suasana cerita menjadi dinamis.Berdasarkan analisis bawah sadar tokoh novel Merahnya Merah karya Iwan Simatupang, dengan kajian psikoanalisis, pemahasannya meliputi (1) masalah unsur bawah sadar tokoh, (2) bawah sadar latar, (3) bawah sadar alur, dan (4) makna bawah sadar Merahnya Merah sebagai sublimasi atau transformasi emosi.
Gambaran tokoh-tokoh Merahnya Merah merupakan interaksi dari tiga begian kepribadian Id, Ego, dan Superego. Id terdiri aas Eros (libido) dan Thanatos (kematian). Kenyataannya, para tokoh Merahnya Merah terbagi menjadi dua. Golongan pertama adalah tokoh-tokoh yang lebih banyak ditemukan, semuanya merupakan harapan yang berafiliasi pada Eros sebagai naluri kehidupan. Perilaku tersebut tampak dominan pada tokoh Kita, Maria, Fifi, dan Pak Centeng. Perilaku-perilaku itu, seperti percintaan bebas yang berakhir dengan hubungan seksual dan hidup bebas sebagai seorang gelandangan. Perilaku-perilaku yang berafiliasi pada Thanatos, diantaranya sebagai algojo pemancung kepala tawanan perang dan pembunuhan Maria kepada Fifi, dan juga pemenggalan Pak Centeng kepada Tokoh Kita. Perilaku tersebut sebenarnya menyirakan keingingan tokoh untuk menghancurkan kehidupan menuju kematian.
          Analisis latar bawah sadar muncul berdasarkan keinginan tokoh-tokohnya untuk memiliki sesuatu dan keinginan itu masih berada dalam angan-angan yang dapat dibuktikan melalui ucapan tokoh yang tidak terkontrol, harapan, cita-cita, dan mimpi.
          Analisis alur bawah sadar dalam Merahnya Merah terdapat berbagai alur. Alur lurus yang mengisahkan kehidupan tokoh utama sempai meninggal dunia. Alur sorot balik mengisahkan peristiwa masa lampau yang muncul dari angan-angan atau renungan para tokoh lainnya. Alur ini merupakan hasil dari sepuluh pertanyaan yang diajukan untuk mengetahui peristiwa penting bersumber pada tokoh utama. Adapun pernyataan-pernyataanya sebagai berikut:
(1)     mengapa Tokoh Kita memilih keluar sebagai calon rahib untuk menjadi anggota pasukan,
(2)     mengapa Tokoh Kita sebagai seorang algojo,
(3)     mengapa Tokoh Kita masuk rumah sakit jiwa,
(4)     mengapa Tokoh kita menjadi gelandangan,
(5)     mengapa Tokoh Kita mencintai Maria,
(6)     mengaa Tokoh Kita menggagumi Fifi
(7)     mengapa Tokoh Kita mengadakan pencarian terhadap hilangnya Fifi,
(8)     mengapa Tokoh Kita kembali ke perkampungan gelandangan setelah menghilang
(9)     mengapa Tokoh Kita dibunuh Pak Centeng, dan
(10)   mengapa kematian Tokoh Kita mendapat penghormatan dari pangdak, pangdam, dan mantri kesehatan.
Analisis makna bawah sadar sebagai sublimasi dapat diuraikan sejumlah makna. Penelusuran makna itu berwujud makna perjuangan, makna kegelandangan, dan berakhir pada makna kematian. Hal ini menunjukkan kenyataan keidakmampuan tokoh utama mencapai makna sublimasi dan pencapaian kesempurnaan.
Kesimpulan
Berdasarkan analisis unsur bawah sadar dalam novel Merahnya Merah dengan psikosanalisis, dapat ditemukan beberapa hal pokok yang merupakan kesimpulan hasil pembahasan.
Merahnya Merah adalah novel kesadaran mengandung unsur-unsur strukturalisme, dan mengandung butir-butir eksistensialisme, kebebasan yang membawa kebaruan dalam tema, fakta cerita, dan sarana sastra. Kebaruan tersebut berupa penyimpangan konvensi sastra yang sudah ada pada novel konvensional. Pengarang melalui tokoh-tokoh cerita secara implisit menyampaikan gambaran melalui perilaku-perilaku tokoh berupa kritik sosial. Kritik sosial lebih ditekankan pada hakikat penelusuran nilai kebenaran yang terjadi dalam masyarakat dewasa ini. Nilai-nilai itu adalah nilai moral, nilai agama, nilai perjuangan, nilai kemanusiaan, dan sebagainya.
Analisis penelusuran unsur bawah sadar tokoh dapat diketahui bahwa tokoh utama sering melakukan penyimpangan perilaku yang dipengaruhi unsur bawah sadar. Pengaruh bawah sadar tersebut membuktikan hadirnya peranan Ego dalam memberikan ruang bagi Id untuk bebas berkreasi memenuhi dorongan naluriah. Hal ini disebabkan oleh ketidakmampuan dalam memberikan pengarahan Id untuk tujuan lebih mulia. Kegagalan-kegagalan semacam ini secara terus-menerus hadir mewarnai usaha manusia dalam mewujudkan dan mempertahankan eksistensinya karena pada hakikatnya, permasalahan kehidupan manusia itu bersifat universal.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar