Senin, 19 Maret 2012

CITRAAN DALAM KUMPULAN PUISI PEMBAWA MATAHARI KARYA ABDUL HADI W.M

CITRAAN DALAM KUMPULAN PUISI PEMBAWA MATAHARI
KARYA ABDUL HADI W.M
By: Hikmah Oky Pravitasari
17 Maret 2012

        Puisi adalah salah satu bentuk karya sastra yang diungkapkan dengan menggunakan bahasa yang padat, indah, dan kaya makna. Artinya ia dibentuk oleh kata-kata yang benar-benar terpilih, terseleksi, atau melalui sensor yang ketat. Menurut Najid puisi adalah jenis sastra imajinatif yang mengutamakan unsur fiksionalitas, nilai seni, dan rekayasa bahasa. Puisi merupakan hasil ungkapan perasaan penyair yang dituangkan melalui kata-kata/bahasa yang sengaja dipilih penyair untuk mewakili perasaannya. Menurut Riffaterre (Pradopo, 1987: 12-13) puisi itu menyatakan sesuatu secara tak langsung, yaitu mengatakan sesuatu hal dengan arti yang lain. Dari pengertian di atas, layaklah kalau pembaca sering mengalami kesulitan ketika berhadapan dengan sebuah puisi. Sebab puisi adalah dunia kata-kata yang karakternya berbeda dibandingkan dengan karakter kata dalam tulisan-tulisan yang lain.
        Menurut Herman J. Waluyo dalam bukunya Teori dan Apresiasi Puisi (1995), secara garis besar, unsur/struktur puisi terbagi dalam dua macam, yaitu struktur fisik dan struktur batin. Struktur Fisik, yaitu unsur-unsur yang langsung tampak pada fisik puisi, yang meliputi diksi, majas, rima, tipografi dan citraan. Kali ini saya akan membahas citraan dalam kumpulan puisi pembawa matahari karya Abdul Hadi W.M. Terdapat 28 kumpulan puisi Abdul Hadi yang terangkum dalam kumpulan puisi Pembawa Matahari.
CITRAAN DALAM KUMPULAN PUISI PEMBAWA MATAHARI
        Untuk memberikan gambaran yang jelas, untuk menimbulkan suasana, untuk membuat lebih hidup dan menarik, dalam puisi penyair juga sering menggunakan gambaran angan. Gambaran angan dalam puisi ini disebut citraan (imagery)
        Citraan atau pengimajian adalah gambar-gambar dalam pikiran, atau gambaran angan si penyair. Setiap gambar pikiran disebut citra atau imaji (image). Gambaran pikiran ini adalah sebuah efek dalam pikiran yang sangat menyerupai gambaran yang dihasilkan oleh penangkapan kita terhadap sebuah objek yang dapat dilihat oleh mata (indera penglihatan). Citraan tidak membuat kesan baru dalam pikiran.
Jenis/macam citraan (imaji).
1.   Citraan penglihatan (visual imegery)
       Citraan penglihatan adalah citraan yang ditimbulkan oleh indera penglihatan (mata). Citraan ini paling sering digunakan oleh penyair. Citraan penglihatan mampu memberi rangsangan kepada indera penglihatan sehingga hal-hal yang tidak terlihat menjadi seolah-olah terlihat. Dalam kumpulan puisi Pembawa Matahari citraan penglihatan terdapat pada puisi berjudul Ketika Masih Bocah
Ketika masih bocah, rumahku do tepi laut
Bila pagi pulang dari perjalanan jauhnya
Menghalau malam dan bayang-bayangnya
Setiap kali ku lihat matahari menghamburkan sinarnya
Seraya menertawakan gelombang (Hadi, 2002: 1)
Dan ada beberapa citra penglihatan dalam beberapa puisi karya Abdul Hadi dalam yang berjudul Pembawa Matahari yaitu pada bait pertama
Pembawa Matahari
Piring-piring lokan itu pecah kembali
Membangunkan tubuh cahaya dan si bocah
Muncul lagi di pantai, mendirikan menara
Dan gundukan pasir dan serakan-serakan kerang
Namun diterbangkan oleh siang
dan diterbangkan ke udara (Hadi, 2002: 14)
citraan penglihatan juga terdapat pada puisi Fragmen, terlalu Sering, Nukilan dari Lagu Syeh Siti Jenar, menjenguk rumah, Kertanagara. Dalam puisi berjudul Fragmen di jelaskan citra penglihatan terdapat pada paragraf pertama.
Setiap kali kupandang tepi laut yang riuh itu
Dan di jendela matahari telah menggerek
Bendera-bendera yang seakan keemasan
Dengan taring-taring api dan sepi yang menyala (Hadi, 2002:16)
Dalam puisi berjudul Terlalu Sering, citra penglihatan terdapat pada bait ketiga. Pada Nukilan Lagu Syeyh Siti Jenar terdapat pada bait kelima. Sedangkam pada puii berjudul Menjenguk Rumah citraan penglihatan terdapat pada bait kedua, yaitu:
Pohon mangga di halaman rumah,
tampak senantiasa lebat,mengirim cahaya
dan akar-akarnya yang bekerja keras
dalam kegelapan tanah dan dari
daun-daun serta rerantingnya (Hadi, 2002:44)
sedangkan citraan penglihatan yang lain terdapat pada puisi Abdul Hadi yang berjudul Kertanagara Fragmen Hari Akhir dan Aku Masuk .

2.   Citraan pendengaran (auditory imagery)
       Citraan pendengaran adalah citraan yang dihasilkan dengan menyebutkan atau menguraikan bunyi suara, misalnya dengan munculnya diksi sunyi, tembang, dendang, dentum, dan sebagainya. Citraan pendengaran berhubungan dengan kesan dan gambaran yang diperoleh melalui indera pendengaran (telinga). Dalam kumpulan puisi Pembawa Matahari citraan penglihatan terdapat pada puisi berjudul Pembawa Matahari, bait kedua dan keempat.
Sore itu aku duduk, membaca buku laut dan gelombang
Mendengarkan kisah dari jauh namun dekat
Bendera petang hampir kumal
Dan jarum hari mulai menjahit sepi
Membentangkan malam.
Nyanyian-nyanyian tak semerdu dulu lagi
Tapi masa kanak-kanakku memasang lagi telinganya
Hingga percakapan-percakapan butir pasir bisa terdengar
Bersama kegaiban ratusan malaikat (Hadi, 2002:44)
Puisi di atas jelas menggunakan citra pendengaran. Indera telinga yang digunakan penyair untuk menggambarkan suasana saat itu. Terdapat pula pada puisi berjudul Terlalu sering pada bait pertama dengan menggunakan pencritaan telinga, sehingga menambah indah bahasa puisi tersebut. Berikut kutipannya.
Terlalu sering kita dengarkan jam
Berkemas detik-detiknya
Entah kemana dan asing bisiknya (Hadi, 2002:18)
Dalam karya Abdul Hadi terdapat pula pencitraan pendengaran di pertengahan bait puisinya yang berjudul Kertanagara Fragmen Hari Akhir.
3.   Citraan perabaan (tactile imagery)
        Citraan perabaan adalah citraan yang dapat dirasakan oleh indera peraba (kulit). Pada saat membacakan atau mendengarkan larik-larik puisi, kita dapat menemukan diksi yang dapat dirasakan kulit, misalnya dingin, panas, lembut, kasar, dan sebagainya.Dalam kumpulan puisi Pembawa Matahari terdapat beberapa citra perabaan yaitu menemukan diksi yang berhubungan dengan perabaan. Seperti dalam puisi Ketika Masih Bocah pada bait keempat,
Arus begitu akrab denganku
Selalu ada tempat bernaung jika udara panas
Dan angin bertiup kencang
Tak banyak yang mesti dicemaskan
Oleh hati yang selalu terjaga
Pulau begitu luas dan jalan lebar
Seperti kepercayaan
Dan kukenal tangan pengasih Tuhan
Seperti kukenal getaran yang bangkit
Di hatiku sendiri (Hadi,2002: 2)
Dalam puisi di atas pencitraan yang dikemukakan tidak hanya pencitraan perabaan saja, tetapi juga citra penglihatan dan perasaan. Pada kalimat pulau begitu luas dan jalan begitu lebar menjelaskan bahwa pulau dapat dilihat ukurannya yang begitu luas dan lebar. Dalam puisi menjenguk rumah terdapat jiga citra perabaan pada bait ketiga.
Ya aku pernah tumbuh bersama
Tunas-tunas ini, bersama dahan-dahan barunya (Hadi, 2001:44)
4.   Citraan penciuman (olfactory)
        Citraan penciuman adalah citraan yang berhubungan dengan kesan atau gambaran yang dihasilkan oleh indera penciuman. Citraan ini tampak saat kita membaca atau mendengar kata-kata tertentu, kita seperti mencium sesuatu. Dalam kumpulan puisi Pembawa Matahari belum ada citraan penciuman.
5.   Citraan gerak (kinaesthetic imagery)
        Citraan gerak adalah gambaran tentang sesuatu yang seolah-olah dapat bergerak. Dapat juga gambaran gerak pada umumnya.
Dalam citraan gerak yang digambarkan oleh Abdul Hadi terdapat dalam beberapa puisinya dalam kumpulan puisi Pembawa Matahari yang berjudul Kembali Tak ada sahutan di sana,jalan ke pantai, sajak kelahiran pada bait ke-42, dan kartanagara pada hari akhir.
Kembali tak ada sahutan disana
Ruang itu bisu sejak lama
Dan kami gedor terus pintu-pintunya
Hingga runtuh dan berderak menimpa tahun-tahun (Hadi, 2002:12)
Hal ini menggambarkan jika penyair menggunkan indera gerak untuk melukiskan puisinya.
Di langit mendung berarak
Dipandangnya segala yang cepat bergerak
Juga kemarau di sana
Kian menguak (Hadi,2002:66)
Pada bait di atas citraan yang digunakan yaitu citraan penglihatan dan gerak. Hal ini sangat berhubungan antara satu dengan yang lain.  selanjutnya pada pertengahan bait dijelaskan pula pencitraan gerak pada puisi yang sama
Dikamarnya
Kartanagara memeluk seorang yogini
Montok, buah dadanya rapat
Dengan jepitan yang garang
Dan siap telanjang
Tiba-tiba ia berbisik pada dirinya sendiri
Seraya mengecup bibir betinanya (Hadi, 2001:68)
Dalam bait di atas, penyair mengungkapkan citraan gerak dan penglihatan. Hal tersebut menambah daya pikat diksi dalam bahasa itu.
6. Citraan perasaan
Puisi merupakan ungkapan perasaan penyair. Untuk mengungkapkan perasaannya tersebut, penyair memilih dan menggunakan kata-kata tertentu untuk menggambarkan dan mewakili perasaannya itu. Sehingga pembaca puisi dapat ikut hanyut dalam perasaan penyair. Perasaan itu dapat berupa rasa sedih, gembira, haru, marah, cemas, kesepian, dan sebagainya. Citraan perasaan dalam kumpulan puisi Abdul Hadi sangatlah menonjol. Terbukti pada puisi yang berjudul Jayakatwang, berikut baitnya;
Sajakku adalah setetes
Dari embunnya
Dulu aku pendosa, kini aku berdosa
Sebab berpaling kepada arah-Nya (Hadi, 2001:60)
Penyair menggambarkan bait di atas yang menandakan perasaan berdosa dan penyesalan. Citraan ini terdapat pula pada puisi Ketika masih bocah pada bait kedua menggambarkan suasana hati penyair pada saat itu.
Sebab itu aku selalu riang
Bermendung atau berawan, udara tetap terang
Setiap butir pasir buku pelajaran bagiku
Kusaksikan semesta di dalam
Dan keluasan mendekapku seperti seorang ibu (Hadi, 2001:60)
Hal ini menggambarkan pada saat kecil, sang penyair merasa tetap senang meskipun sedang berkabung. Dijelaskan pula citraan rasa pada puisi berjudul Elegi pada bait kelima, Selain laut pada bait keenam menggambarkan kesedihan.

7. Citraan intelektual
        Citraan intelektual adalah citraan yang dihasilkan oleh/ dengan asosiasi-asosiasi intelektual. Dalam kumpulan puisi karya Abdul Hadi W.W sebagian besar puisinya mengandung citra intelektual. Sebagai contoh pada puisi Matahari dan Ka’bah (Lukisan Affandi)
Tujuh matahari bangkit dan mengoyak cakrawala
Tujuh puluh matahari, tujuh ratus nyala berkobar
Gurun dan wadi-wadinya bersimpuh
Kembang, pepohonan, unta, kemahpara kafilah
Api dan tenaga api
Sahabat, kita akan pergi kesana
Kita akan lebih hidup dari semula
Selakali langkah saja merangkum ribuan tata surya
Sekali sapuas puas
Dengan mata kalbu seorang sufi
Alamat yang tak dikenal akan datang sendiri
Dan membawa kita ke rumah-Nya
Atau kita culupkan disini saja
Derita dan kefanaan kita
Affandi, pemuja matahari
Yang mataharinya di Ka’bah
Yang mataharinya terbit dan terbenam dalam kalbu
Yang mataharinya lahir dan besar  dalam jiwa
Beranak cucu matahari
(Hadi, 2002:36)



DAFTAR PUSTAKA
Najid, M. 2009. Mengenal Apresiasi Prosa Fiksi. Surabaya: University Press.
Nurgiyantoro, B. 1994. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press

Pradopo, Rachmad Djoko. 1990. Beberapa Gagasan dalam Kritik Sastra Indonesia Modern. Yogyakarta: kanisius

http://pustaka.ut.ac.id/website/index.php?option=com_content&view=article&id=5
8:pbin-4104-teori-sastra&Itemid=75&catid=30:fkip  diakses 12 Maret 2012-03-14

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar