Senin, 05 Maret 2012

Analisis Unsur Intrinsik dalam Cerpen berjudul "SIH" karya Ajib Purnawan


MAKALAH
ANALISIS UNSUR INTRINSIK DALAM CERPEN
BERJUDUL “SIH” KARYA AJIB PURNAWAN

Oleh:
Hikmah Oky Pravitasari
KKT A

JURUSAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS BAHASA DAN SENI
UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA
2012
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan yang Maha Esa, yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Unsur Intrinsik dalam Cerpen Sih Karya Ajib Purnawan” dengan tepat waktu.
Makalah ini disusun sebagai salah satu syarat untuk memperoleh nilai dalam mata kuliah keterampilan berbahasa tulis dalam mata kuliah KKT di Universitas Negeri Surabaya.
Pada kesempatan ini, tak lupa penulis mengucapkan terimah kasih kepada semua pihak yang telah sudi meluangkan waktu, tenaga, dan pikiran dalam membantu penulis dalam membantu penulis dalam menyelesaikan makalah ini.
‘Penulis menyadari sepenuhnya bahwa penulisan ini masih jauh dari sempurna yang tak lain karena keterbatasan kemampuan. Untuk itu, koreksi yang membangun akan penulis terima untuk kesempurnaan.
Akhirnya penulis penulis berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan bagi pembaca pada umumnya.




Surabaya, 28 Januari 2012
                                                                                                         Penulis

Hikmah Oky Pravitasari

BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Pada dasarnya karya sastra terdiri dari tiga macam, yaitu puisi, prosa fiksi, dan drama.  Prosa fiksi disebut juga cerita rekaan. Ada beberapa hal yang perlu dipaparkan berkait dengan pembedaan jenis prosa fiksi, yang secara garis besar dibagi menjadi dua, yaitu cerita pendek (cerpen) dan novel. Menurut Najid cerpen ialah prosa fiksi yang relatif pendek (2009:21). Berbeda dengan novel yang relatif lebih panjang, meskipun demikian sangat mungkin sebuah cerpen bila dilanjutkan akan menjadi sebuah novel. Cerita pendek (cerpen) sebagai salah satu jenis karya sastra ternyata dapat memberikan manfaat kepada pembacanya. Di antaranya dapat memberikan pengalaman pengganti, kenikmatan, mengembangkan imajinasi, mengembangkan pengertian tentang perilaku manusia, dan dapat menyuguhkan pengalaman yang universal. Pengalaman yang universal itu tentunya sangat berkaitan dengan hidup dan kehidupan manusia serta kemanusiaan. Ia bisa berupa masalah perkawinan, percintaan, tradisi, agama, persahabatan, sosial, politik, pendidikan, dan sebagainya. Jadi tidaklah mengherankan jika seseorang pembaca cerpen, maka sepertinya orang yang membacanya itu sedang melihat miniatur kehidupan manusia dan merasa sangat dekat dengan permasalahan yang ada di dalamnya. Akibatnya, si pembacanya itu ikut larut dalam alur dan permasalahan cerita. Bahkan sering pula perasaan dan pikirannya dipermainkan oleh permasalahan cerita yang dibacanya itu. Ketika itulah si pembacanya itu akan tertawa, sedih, bahagia, kecewa, marah , dan mungkin saja akan memuja sang tokoh atau membencinya.
Adapun Novel dan cerpen sebagai karya fiksi mempunyai persamaan, keduanya dibangun oleh unsur-unsur pembangun. Novel dan cerpen dibangun oleh dua unsur yaitu unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik. Disini kita akan membahas unsur intrinsik dalam cerpen berjudul “SIH” yang bersumber dari Jawa Pos. Unsur intrinsik itu meliputi plot, tema, tokoh, latar, sudut pandang, dan lain-lain.
1.2  Rumusan Masalah
Rumusan Masalah pasti selalu ada dalam setiap penelitian atau kegiatan. Hal ini bertujuan agar pembicaraan yang dilakukan dapat mencapai sasaran. Adapun rumusan masalah dalam makalah ini adalah sebagai berikut:
  1. Bagaimana Plot/alur dari cerpen berjudul “SIH”?
  2. Bagaimana Tema dari cerpen berjudul “SIH”?
  3. Bagaimana setting dari cerpen berjudul “SIH”?
  4. Bagaimana penokohan dari cerpen berjudul “SIH”?
  5. Bagaimana sudut pandang dari cerpen berjudul “SIH”?
1.3  Tujuan
  1. Mendeskripsikan bagaimana Plot/alur dari cerpen berjudul “SIH”?
  2. Mendeskripsikan bagaimana Tema dari cerpen berjudul “SIH”?
  3. Mendeskripsikan bagaimana setting dari cerpen berjudul “SIH”?
  4. Mendeskripsikan bagaimana penokohan dari cerpen berjudul “SIH”?
  5. Mendeskripsikan bagaimana sudut pandang dari cerpen berjudul “SIH”?
1.4  Manfaat
Hasil makalah diharapkan dapat bermanfaat bagi semua orang yang membacanya.
  1. Manfaat Teorotis
Makalah ini diharapkan memberi sumbangan bagi peminat karya sastra
  1. Manfaat Praktis
Secara praktis makalah ini memberikan manfaat sebagai berikut:
a.       Meningkatkan minat baca peminat sastra
b.      Meningkatkan daya kepekaan terhadap karya sastra
c.       Mendapatkan tambahan informasi.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1  Tema
Menariknya sebuah cerita tentunya tidak lepas dari tema. Tema sering disebut sebagai dasar cerita. Tema pada dasarnya adalah permasalahan pokok yang ingin dipecahkan oleh pengarang.  Menurut Aminudin, Tema adalah ide yang mendasari suatu cerita sehingga berperan juga sebagai pangkal tolak pengarang dalam memaparkan karya fiksi yang diciptakannya (2010:91). Sehingga karya fiksi tesebut begitu menarik untuk pembaca.  Dalam cerpen keberadaan tema ada yang tersurat dan tersirat. Tema tersurat yaitu tema yang dinyatakan pengarangnya. Sedangkan tema tersirat yaitu tema yang tersebar di seluruh isi cerita. Tema terbagi menjadi dua jenis, yaitu tema mayor dan tema minor. Tema mayor yaitu makna pokok cerita yang menjadi dasar atau gagasan dasar umum karya itu, sedangkan tema minor yaitu makna yang terdapat pada bagian tertentu cerita (Nurgiyantoro, 1994:83)
2.2  Plot (alur)
Alur menurut Najid (2009:25) diartikan jalin-menjalinnya berbagai peristiwa, baik secara linier atau lurus maupun secara kausalitas, sehingga membentuk satu kesatuan yang utuh, padu dan bulat dalan suatu prosa fiksi. Aminudin menyebutkan, alur merupakan rangkaian cerita yang dibentuk oleh tahapan-tahapan peristiwa sehingga menjalin suatu cerita yang dihadirkan pelaku cerita (2010:82). Jadi alur merupakan rangkaian sebuah cerita yang terjalin dari awal sampai akhir. Susunan alur terdiri dari tiga bagian, yaitu bagian awal, bagian tengah, dan bagian akhir. Didalam cerpen ini, struktur plot itu dapat diuraikan seperti berikut.
a.       Bagian awal, di awal cerita terjadi perkenalan tokoh, latar, penciptaan suasana yang berisi informasi penting yang terkait dengan hal-hal yang diceritakan pada tahapan berikutnya.
b.      Bagian tengah, bagian ini melibatkan adanya konflik yang mulai muncul. Pada bagian ini tokoh, peristiwa, konflik, tema, makna cerita dan yang lain diceritakan. Pada bagian ini konflik terlihat lebih jelas dari sebelumnya
c.       Bagian akhir, bagian akhrir adalah tahap peleraian atau kesesudahan cerita. Berbagai jawaban atas berbagai persoalan yang dimunculkan pada cerita telah terlihat alternatif penyelesaiannya. Adapun akhir cerita bisa menyenangkan (happy ending) maupun menyedihkan (sad ending).
Berdasarkan proses penyusunan alur dapar dibedakan menjadi dua:
a.       Alur lurus, yaitu sebuah cerita yang diceritakan dari awal sampai akhir secara kronologis.
b.      Alur sorot balik (flashback), yaitu suatu cerita yang tidak diceritakan secara berurutan.
2.3  Setting (latar)
Dalam suatu cerita latar dibentuk melalui segala keterangan, petunjuk, pengacuan yang berkaitan dengan waktu, ruang, dan suasana terjadinya suatu peristiwa. Najid menyebutkan bahwa penempatan waktu dan tempat beserta lingkungannya dalam prosa fiksi disebut latar (2009:209). Latar ini ada tiga macam, yaitu: latar tempat; latar waktu; dan latar sosial.
a.       Latar Tempat yaitu lokasi terjadinya peristiwa yang diceritakan dalam sebuah karya fiksi (Nurgiyantoro, 1994:226)
Misalnya: Magelang, Bekasi, hutan.
b.      Latar waktu, latar waktu menceritakan hubungan masalah kapan terjadinya peristiwa yang dikerjakan dalam karya fiksi. Pembaca dapat memahami isi cerita dengan mencoba masuk ke dalam suasana cerita.
c.       Latar Sosial menyarankan pada hal-hal yang berhubungan dengan perilaku kehidupan sosial masyarakat di suatu tempat pada cerita tersebut. Tata cara perilaku kehidupan masyarakat dalam cerita bisa diungkap dengan cukup kompleks memalui latar sosial.
Misalnya: kebiasaan hidup, adat istiadat, tradisi, keyakinan pandangan hidup, cara berpikir dan bersikap.
2.4  Penokohan
Suatu peristiwa dalam sebuah cerita selalu didukung oleh sejumlah tokoh atau pelaku-pelaku tertentu. Dengan adanya penokohan sebuah cerita menjadi lebih nyata dan lebih hidup.
“Tokoh cerita (character), menurut Abrams (1981:20) dalam Nurgiyantoro (1994:165), adalah orang-orang yang ditampilkan dalam suatu karya naratif, atau drama yang oleh pembaca ditafsirkan memiliki kualitas moral dan kecenderungan tertentu yang diekspresikan dalam ucapan dan apa yang dilakukan dalam tindakan”.
Jadi, yang dimaksud dengan penokohan yakni bagaimana pengarang menampilkan perilaku tokoh-tokohnya berikut wataknya. Berdasarkan karakternya tokoh dibedakan menjadi dua:
a.       Tokoh sederhana (simple, flat character) yaitu tokoh yang kurang mewakili personalitas manusia dan biasanya hanya ditonjolkan dalan satu dimensi saja. Tokoh ini cenderung tidak dikembangkan.
b.      Tokoh kompleks (complex, Round character) yaitu tokoh yang dapat dilihat dari semua sisi kehidupannya. Tokoh seperti ini kemungkinan bisa berkembang karena memiliki kepribadian yang kompleks.
Berdasarkan fungsi penampilan tokohnya dapat dibedakan ke dalam tokoh protagonis dan antagonis:
a.       Tokoh protagonis adalah tokoh yang kita kagumi, kadang kita sebut hero, tokoh yang merupakan pengejawatan norma-norma, nilai-nilai, yang ideal bagi kita (altenbernd & alewis, 1996:59) dalam (Nurgiyantoro, 1994: 178). Jadi tokoh protagonis adalah tokoh yang sesuai dengan pandangan kita.
b.      Tokoh antagonis adalah tokoh yang sering memunculkan konflik. Tokoh antagonis dapat disebut, sering beroposisi dengan tokoh protagonis secar langsung maupun tak langsung.
2.5  Sudut Pandang
Keberadaan sudut pandang sangatlah penting dalam sebuah karya sastra, terutama dalam sebuah cerita. Yang dimaksud dengan sudut pandang yaitu kedudukan/posisi pengarang dalam cerita tersebut. Maksudnya apakah, pengarang ikut terlibat langsung dalam cerita iu atau hanya sebagai pengamat yang berdiri di luar cerita. Menurut Aminudin sudut pandang yaitu cara pengarang menampilkan para pelaku dalam cerita yang dipaparkan (2010:91). Jadi seolah-olah pengarang adalah seorang nahkoda kapal yang siap memberangkatkan penumpangnya. Dalam menampilkan cerita, pengarang dapat berposisi berbeda- beda. Beberapa jenis sudut pandang yaitu:
a.       Pencerita sebagai pelaku utama. Contoh ; aku
b.      Pencerita sebagai pelaku tetapi bukan sebagai pelaku utama, dengan kata lain cerita tersebut adalah kisah orang lain tetapi pencerita masih terlibat
c.       Pencerita serba hadir.
d.      Pencerita sebagai peninjau.
BAB III
PEMBAHASAN
Unsur intrinsik adalah unsur dalam yang membentuk penciptaan karya sastra. Unsur ini berupa tema, latar, alur, penokohan, serta sudut pandang. Kelima unsur yang terdapat dalam cerpen.
3.1 Tema
Pengarang yang sedang menulis cerita pasti akan menuangkan gagasannya. Tanpa gagasan pasti dia tidak bisa menulis cerita. Gagasan yang mendasari cerita yang dibuatnya itulah yang disebut tema dan gagasan seperti ini selalu berupa pokok bahasan.
Tema atau pokok persoalan cerpen “Sih” terbagi menjadi dua yaitu tema mayor dan tema minor
  1. Tema mayor  pada cerpen “Sih” yaitu tentang kepolosan seorang janda bernama Sih. Hal ini dapat dibuktikan pada paragraf.
“Polos, lugu, jujur, namun tumpul, seperti ketika ia membalas kedipan mata To. Tak paham artinya, tak tahu maksud kedatangan To juga. Lalu, ia mendekat dan duduk berhadapan dengan lelaki yang masih basah kuyup itu.”
Kemudian pada paragraf berikutnya ditegaskan kembali
“Seorang sih memang sungguh-sungguh tak mengerti makna dosa, tak tahu arti neraka. Sebab sedari kecil ia senantiasa bekerja, melakukam sesuatu untuk mendapatkan upah, menjual barang akan mendapatkan uang. Orang tua sih juga tak memperkenankan anaknya sekolah, takut menjadi orang yang tak jujur.”
Persoalannya terletak pada Sih yang sangat lugu dan polos dan tidak tahu menahu arti sebuah dosa, sehingga dia rela melakukan apa saja yang diperintahkan asal dia bisa makan dan mendapatkan satu kuintal padi. Diapun tak merasa berdosa karena tak seorangpun mengajarkan kepadanya arti sebuah dosa, bahkanpara tetanggapun tak pernah mendidiknya karena mereka menganggap Sih hanya sebuah kayu bakar, karena pekerjaanya sehari-hari adalah seorang tukang pencari kayu di hutan. Hal ini terletak pada paragraf.
” Para tetangga juga tak mendidiknya. Sih adalah kayu bakar. Jika butuh memasak, barulah mereka ke rumah Sih, sebatas membeli kayu lalu pulang. Begitu pula dengan Sih tak pernah merumpi dengan para ibu. Ia tahu hidup untuk bekerja, hidup tak untuk bicara saja, itu pesan orang tua Sih.”
Sedari kecil Sih dididik oleh orang tuanya hanya untuk bekerja tanpa sekolah sehingga dengan mendapatkan upah dia merasa itu sebuah harga dari jerih payahnya. Dan lelaki yang datang ke rumahnya menawarkan sebuah imbalan satu kuintal beras, tentu bagi Sih itu adalah imbalan yang cukup besar karena dia taidak tahu-menahu arti sebuah dosa.
  1. Tema Minor, yaitu tema sampingan. Tema minor dalam cerpen Sih yaitu kebodohan dan kemiskinan. Hal ini dapat ditunjaukkan pada paragraf kelima.
“Ia memang perempuan yang tak pernah makan bangku sekolah. Kata orang-orang uang kertas dalam kepalanya berakhir diangka sepuluh ribu. Dua puluh rubu? Lima puluh ribu? Seratus ribu?” itupun bukanlah uang hanya kertas yang tidak laku.’ Katanya.”
Hal ini menukjukkan bahwa dia tidak terlalu mementingkan nilai uang akibat ketumpulannya. Hidupnya hanya digunakan untuk bekerja dan bekerja. Kemiskinan juga ditunjukkan dengan kelakuannya dia yang selalu menjual apa saja yang dimilikinya demi kelangsungan hidupnya. Hal ini ada di paragraf kesepuluh yaitu.
“sambil duduk, Sih masih belum paham, kemana emas dan uang. Meski ia sadar semuanya telah menjadi pembungkus tulang ditubuhnya.


3.2 Plot (Alur)
Berdasarkan proses penyusunan alur dapar dibedakan menjadi dua:
a.       Alur lurus, yaitu sebuah cerita yang diceritakan dari awal sampai akhir secara kronologis.
b.      Alur sorot balik (flashback), yaitu suatu cerita yang tidak diceritakan secara berurutan.
Dalam cerpen “Sih” alur yang digunakan yaitu alur lurus. Disini diceritakan kejadian awalnya sih mencari kayu bakar dan bertemu dengan beberapa lelaki di desanya sampai akhirnya terjadilah konflik antara Sih dengan para lelaki desa dan akibat perbuatan lelaki desa terhadap Sih dan penyelesaian masalah ole Kamituwa sesepuh desa.

Strukturnya itu terdiri dari tiga bagian, yaitu bagian awal, bagian tengah, dan bagian akhir. Didalam cerpen ini, struktur plot itu dapat diuraikan seperti berikut.
Bagian Awal
Pada bagian awal cerita ini yang terdapat dalam cerpen ini terbagi atas dua bagian, yaitu bagian eksposisi, yang menjelaskan/ memberitahukan informasi yang diperlukan dalam memahami cerita. Dalam hal ini, eksposisi cerita dalam cerpen ini berupa penjelasan tentang keberadaan seorang Sih sebagai seorang pencari kayu bakar.
”  Langkahnya pasti berangkat sebelum subuh ke hutan jati. Rombongan kayu yang dulu ramai, kini tinggal Sih sendiri. Langka-langkah yang biasa didahului kawan pengumpul kayu jati dengan hember tua, gazelle tua, dan vesting keluaran RRT yang mereka naiki. Sih tidak punya karena tak kuasa membeli.”
Bagian tengah
            Pada bagian ini awal mulai muncul konflik terjadi dengan datangnya lelaki desa bernama To yang masuk kerumah sih dengan menawarkan sebuah janji untuk memberi Sih satu kuintal padi jika masa panen tiba dua bulan lagi.
“Satu kuintal padi akan kuantar kerumah ini, musim panen dua bulan lagi,” To berbicara seperti itu sambil menarik tangan Sih dan membawanya ke sebuah bilik ranjang yang disekat dengan anyaman bambu berpintu kain kelambu.
Dan ternyata konflik itu bermula karena To memberitahu teman-temannya tentang Sih, maka para lelaki itupun datang ke rumah Sih dengan menawarkan janji memberi Sih satu kuintal padi. Sampai akhirnya Sih pun hamil dan tak menyadari itu adalah akibat dari perbutan para lelaki desa itu.
Bagian Akhir
Pada bagian ini terjadi penyelesaian masalah oleh pemimpin desa yaitu seorang kamituwa. Beliau mencari keadilan dan pertanggungkawaban dari ketiga lelaki yang telah menghamili sih. Pertanyaan yang diajukan oleh kamituwa kepada ketiga lelaki itu yaitu:
“Apakah kalian bertiga?” suara Kamituwa parau. Hanya To yang mengangguk, Basu menggeleng marah dan membentak Kamituwa, sedangkan man malah menangis.

3.3 Setting (latar)
Dalam suatu cerita latar dibentuk melalui segala keterangan, petunjuk, pengacuan yang berkaitan dengan waktu, ruang, dan suasana terjadinya suatu peristiwa. Latar ini ada tiga macam, yaitu: latar tempat; latar waktu; dan latar sosial.
Latar Tempat dan waktu
Latar jenis ini biasa disebut latar fisik. Latar ini dapat berupa daerah, bangunan, kapal, sekolah, kampus, hutan, dan sejenisnya. Latar tempat yang ada dalam cerpen ini jelas disebutkan oleh pengarangnya, seperti di hutan. Latar jenis ini, yang terdapat dalam cerpen ini ada yang bersamaan dengan latar tempat, seperti yang sudah dipaparkan di atas pada latar tempat atau contoh yang lainnya seperti berikut :
“Langkahnya pasti berangkat sebelum subuh ke hutan jati..... Ia pulang ketika matahari menyinari dahi.”
Selain itu disebutkan pula di sebuah rumah Sih dan jelas waktu itu petang hari.
“ ia masih ingat siapa pria di depannya meski hari mulai petang dan lampu bohlam lima watt tak begitu menyala terang..... to pria yang datang diwaktu hujan, adalah orang pertama yang sudi masuk ke rumah Sih. Ia adalah tetangga RT. 
Selain itu disebutkan pula terjadinya musyawarah pada malam hari di rumah kamituwa.
“ Musyawarah pada malam hari ini akan diawali dengan pengakuan Sih” ujar kamituwa di tengah warga kampung. Acara malam itu memang heboh.”
            Latar Sosial
Di dalam latar ini umumnya menggambarkan keadaan masyarakat, kelompok-kelompok sosial dan sikapnya, kebiasaannya, cara hidup, dan bahasa. Di dalam cerpen ini latar sosial digambarkan sebagai berikut :
Dilihat dari nama-nama tokoh sudah jelas bahwasannya semua itu terjadi di sebuah kehidupan di pedesaan. Mata pencarian penduduk di desa itu umumnya adalah pencari kayu bakar, tetapi seiring berkembangnya zaman maka pencari kayu itupun semakin lama semakin sedikit. Di jelaskan pada paragraf.
”  Langkahnya pasti berangkat sebelum subuh ke hutan jati. Rombongan kayu yang dulu ramai, kini tinggal Sih sendiri. Langka-langkah yang biasa didahului kawan pengumpul kayu jati dengan hember tua, gazelle tua, dan vesting keluaran RRT yang mereka naiki. Sih tidak punya karena tak kuasa membeli.”
Selain itu mayoritas penduduknya berprofesi sebagai petani
“Sih keluar rumah, bertanya pada Wo Min yang kebetulan membawa dua sak padi di atas sepedanya. Jawaban yang Sih terima belum baru beberapa sawah. Seminggu lagi panen besar.
Hal ini menjelaskan bahwa masyarakat di desa itu sebagian besar mata pencariannya sebagai petani. Selain itu hal ini terjadi di sebagian besar daerah yang masih jauh dari jangkauan kota dan masyarakatnya masih sangat tradisional karena masih menggunakan kayu bakar untuk memasak.
3.4 Penokohan
Yang dimaksud dengan penokohan yakni bagaimana pengarang menampilkan perilaku tokoh-tokohnya berikut wataknya.
  1. Tokoh Sih
Tokoh Sih disini berperan sebagai tokoh Protagonis yang cenderung sering muncul dan dominan dalam sebuah cerita. Selain itu, tokoh sih disini yaitu tokoh kompleks (complex, Round character) yaitu tokoh yang dapat dilihat dari semua sisi kehidupannya. Dijelaskan jika tokoh Sih itu adalah seorang wanita desa yang sangat lugu, polos, jujur namun tumpul karena dia tidak pernah mengenyam pendidikan sama sekali karena orang tuanya tidak pernah memperkenalkannya dalam dunia pendidikan. Datanya sebagai berikut.
“Polos, lugu, jujur, namun tumpul, seperti ketika ia membalas kedipan mata To. Tak paham artinya, tak tahu maksud kedatangan To juga. Lalu, ia mendekat dan duduk berhadapan dengan lelaki yang masih basah kuyup itu.”
            Selain itu ditegaskan pula pada paragraf berikutnya
“Seorang sih memang sungguh-sungguh tak mengerti makna dosa, tak tahu arti neraka. Sebab sedari kecil ia senantiasa bekerja, melakukam sesuatu untuk mendapatkan upah, menjual barang akan mendapatkan uang. Orang tua sih juga tak memperkenankan anaknya sekolah, takut menjadi orang yang tak jujur.”
            Keluguan dan kepolosannya dapat ditunjukkan dalam kalimat
“ Ia akan memberiku satu kuintal. Dulu suamiku tak memberi apa-apa,” batin Sih suatu siang. Sejak itu berkali-kali To datang ke rumah Sih. Terkadang dua hari sekali, sekali seminggu, asal lingkungan sepi.”
Dijelaskan disini dia tidak mengerti apa-apa tentang arti sebuah dosa. Dia benar-benar seorang yang jujur dan kepolosannya telah membawa dia pada kesengsaraan akibat tipuan para lelaki yang tidak bertanggung jawab karena dia tidak pernah paham tentang etika perselingkuhan, buktinya yaitu:
“Sih tak tahu etika itu. Sih tak tahu cara berbohong. Umpatan yang ia terimah dari istri To ia anggap ocehan burung petet. Namun makian dan tamparan yang datang dari To beberapa saat kemuadian membuatnya linglung. Sih benar-benar tidak paham etika pangkal paha.”
  1. Tokoh To
Tokoh To adalah Tokoh antagonis. Tokoh ini juga sebagai tokoh yang memunculkan awal konflik. Tokoh To adalah tokoh yang tak bertanggung jawab. Karena memberikan janji kepada seorang Janda Sih dengan imbalan satu kuintal padi demi urusan pangkal paha dan demi memuaskan nafsunya saja.
”To berbicara seperti itu sambil menarik tangan Sih, membawanya kesebuah bilik ranjang yang disekat dengan anyaman bambu berpintu kain kelambu. “
Sikap tak bertanggung jawab To bisa ditunjukkan dengan ingkarnya janji terhadap Sih atas satu kuintal padi yang telah dijanjikannya terhadap sih. Hal ini menunjukkan bahwa sikap To tak bertanggung Jawab atas perbuatannya.
  1. Tokoh Kamituwa
Tokoh ini sangat istimewa. Tidak banyak dimunculkan tetapi sangat menentukan keberlangsungan cerita ini. Tokoh ini muncul di akhir cerita sebagai pelerai sebuah masalah karena dia adalah seorang pemimpin desa yang bijaksana dan bertanggung jawab. Hal ini dapat ditunjukkan dalam kalimat.
“Penuhi janji kalian terhadap sih sekarang juga........ Kamituwa menyuruh semua orang untuk diam. Ia melihat Sih, lalu menyapu tiga wajah laki-laki terhukum dengan mata yang dibuat bijaksana,’ kalian bertiga adalah ayahnya, biayai persalinan Sih.” Aku yang akan membesarkan bayi di perut ini,” tutup kamituwa.
Hal ini menunjukkan bahwa Kamituwa adalah seorang pemimpin yang bijaksana serta bertanggung jawab.
  1. Tokoh Sampingan
Tokoh sampingan yaitu tokoh yang kemunculannya hanyalah minoritas, seperti Man dan basu pria bercucu beranak satu yang mengikuti jejak To. Disini mereka diceritakan hanya sebagian saja tidak menyeluruh. Selain itu pada awal cerita diceritakan pula bahwa anak-anak sih sudah merantau dan si bungsu Wo Imah yang bernasib mujur telah diadopsi oleh seorang yang kaya. Ada pula seorang istri To yang kemunculannya di munculkan di akhir cerita. Disini mereka tidak disebutkan secara lebih jelas karena kemunculannya hanyalah sebagai penjelas tokoh – tokoh sentral saja.
3.5 Sudut Pandang
Dalam cerpen “Sih” Pencerita mengisahkan cerita yang mepergunakan sudut pandang pesona ketiga. Pencerita memakai nama orang lain atau “dia”. Menurut Nurgiyantoro narator adalah seorang yang berada di luar cerita yang menampilkan tokoh- tokoh cerita yang menyebut nama atau kata gantinya (1994:256). Dalam paragraf pertama pencerita sudah memperkenalkan Tokoh utama yaitu Sih.
“Setumpuk bibir mneyunggingkan senyum. Sih puas dengan jerih payahnya setiap pagi. Ia hanya tidak puas pada derita jiwa yang masih dikekang raga.”














BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Cerpen yang berjuduk “Sih” karya Ajib Purnawan ini memang sebuah sastra (cerpen) yang menarik dan baik. Hal ini dapat dilihat dari unsur-unsur intrinsik dan kesesuaiannya sebagai bahan pembelajaran. Adapun hasil analisisnya sebagai berikut.
Unsur-unsur Intrinsik
  1. Tema
Tema cerpen ada dua yaitu tema mayor dan tema minor. Tema mayor pada cerpen ini yaitu ini adalah kepolosan seorang janda yang bernama Sih. Sedangkan tema minornya yaitu tema tentang kemiskinan dan kebodohan.
  1. Plot (alur)
Alur dalam cerita ini adalah alur lurus yaitu sebuah cerita yang diceritakan dari awal sampai akhir secara kronologis
  1. Setting (latar)
Latar tempat dan waktu dalam cerpen ini disebutkandi hutan menjelang subuh sampai menjelang siang, di rumah pada siang hari dan di rumah kamituwa pada malam hari.
  1. Penokohan
Tokoh kompleks dalam cerpen ini ada tiga orang. Mereka adalah Sih, To dan Kamituwa
1)      Tokoh Sih adalah seorang yang lugu, jujur, polos namun tumpul dan tidak tahu arti sebuah dosa.
2)      Tokoh To berwatak keras dan tak bertanggung jawab
3)      Tokoh Kamituwa adalah tokoh yang bijaksana dan bertanggung jawab
  1. Sudut Pandang
Pengarang atau pencerita menggunakan sudut pandang orang ketiga. Pengarang menggunakan nama orang lain sebagai tokoh utama.
.           Berdasarkan uraian di atas, maka cerpen  Sih adalah cerpen yang menarik karena pengarang menceritakan kehidupan sosial yang sering terjadi dalam masyarakat pada umumnya. Selain itu konflik psikologis yang dimunculkan umumnya terjadi dalam realitas kehidupan di pedesaan yang secara ekonomi masih sangat sulit dan tidak semudah menggerakkan roda perekonomian yang sering terjadi di kota – kota besar.









DAFTAR PUSTAKA
Aminuddin. 2010. Pengantar Apresiasi Karya Sastra. Bandung: Sinar Baru Algensindo
Najid, M. 2009. Apresiasi Prosa Fiksi. Surabaya: University Press.
Nurgiyantoro, Burhan. 1994. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gajdah MadaUniversity Press



           
   

Rabu, 08 Februari 2012

Blank.... blank...blank

I have nothing in my mind....
just a silent thing
just a little thing
just an empty mind

I just wanna Jump
I just wanna Jump
Grrrr..grrrrrr....grrrrrrr
Buzzzz... buzzzz

Tugas "nulis" dari pak Anas bisa bikin runyam kayaknya..
I have no idea, mau nulis apa lagi Blank.. masa lagi kena PSM juga..
byuhh okelah pakai jurus jitu saja .. saya mau asal ngomong tau hasilnya bagus apa ndak urusan belakangan dah.. yang penting lanjoooooooooottt

Pak Anaz ngasih tugas nulis yang mau diterbitin jadi buku antar mahasiswa KKT wajib nulis ...
Duuuh pikiranku dah melayang tinggi. mulai dah **** Bukunya dah banyak yang Antri di Gramedia, banyak yang nyari jadi buku best seller atau mungkin ditolak penerbit hahahahaha (mulai high imaginationnya :P)

Sabtu, 03 Desember 2011

Dis ....

Keingat seminar Bintek 4 bulan lalu selama 6 hari yang diadakan di Hotel Grand Park Surabaya, sungguh atmosfer yang sangat berbeda sekali dengan kehidupan disini. Keberagaman yang begitu indah berteman dengan sekian banyak teman dari seluruh Nusantara. Kehidupan sosialisasi di sini (baca : Surabaya) sangat jauh berbeda dengan kehidupan sosialisasi saya sewaktu dan selama saya Di Bintek. Mereka sangat care dan ramah-ramah.. Dibandingkan dengan karakter orang sini (baca: Jawa Timur) sungguh sangat berbeda.. Atmosfer ketenangan yang saya rasakan saat itu begitu dalam sehingga tak terasa workshop yang diadakan selama 6 hari seperti angin lewat begitu saja. Mengingat padatnya jadwal waktu itu karena panitia memadatkan waktu seharusnya 7 hari dan diperpendek menjadi 6 hari. Saya mewakili guru Bahasa Inggris di sekolah saya dan saya sangat bersyukur sekali mempunyai kesempatan seperti ini. Mendapatkan ilmu gratis Alhamdulillah. Dan saya menjadi peserta termuda di kelas bahasa Inggris karena rata-rata yang ikut ibu-ibu dan bapak-bapak yang sudah berpengalaman mengajar tentunya. Kami begitu kompak mengikuti "mata kuliah (baca: intensif class)" untuk kelas bahasa inggis. Bu Rieke yang dari Gorontalopun mau mengajak kita semua kompakan tuk datang ke class telat jam 12 yang seharusnya jam 8, karena banyaknya tugas yang diberikan dosen kala itu, padahal tugas bahasa inggris itu paling sedikit jika dibandingkan pelajaran lain dari Science, TIK dan Math.. Dan untuk menghormati dosen tersebut akhirnya kitapun datang jam 9 tidak terlalu telat bukan???? :D

Teman- teman yang selalu saya ingat kala itu........
Bu Zulaeha teman dari Banjarmasin yang lucu, umur beliau sudah 40 th tapi beliu menikah dengan salah satu murid di SMPnya dulu yang lebih muda 12 tahun darinya, Bu zee Miss U. Mas Putu Aris dari Denpasar yang mirip sekali dengan teman saya di sana, bu Ari dari Makasar yang ramah, mbak Sinta dari Ambon yang sering share ilmunya dan teman" dari luar pulau yang begitu menyenangkan, berbeda dengan jurusan lain yang dari Science dan Math, mereka lebih serius dari pada orang-orang dari Bahasa, mungkin karena mereka rata-rata condong ke otak kiri ya makanya lebih sistematis...
Berbeda sekali dengan atmosfer di tempat saya bekerja... Apa itu yang membuat saya tidak nyaman??? salah sedikit sudah jadi bahan omongan. Apa ini yang namanya seorang pendidik?
Di sini, kehidupan seseotang yang baru seperti saya serasa seorang “artis terkenal”. Semua gerak-gerik saya seperti selalu di bidik para paparazi. Begitu pentingkah waktu mereka, mereka buang hanya untuk mempergunjingkan orang lain??? keinget adik tingkatan yang keterima di instansi ini juga share sambil nangis karena tidak tahan dengan ulah orang- orang itu. Predekat sekolah internasional tidaklah seimbang jika dibandingkan dengan SDMnya. Sungguh sangat mengecewakan. Focus utama saya bukan masalah PNS atau Bukan? kenapa orang-orang berebut menduduki kedudukan ini sedangkan pemerintahan di dearah hanya mengkambing hitamkan instansi demi kepentingan politik semata. Saya hanya ingin membagi ilmu saja kepada anak-anak. Apa saya salah?

sepertinya ibu saya mengetahui ketidaknyamanan saya disini. Semoga saya mendapatkan tempat kerja yang lebih baik nantinya. Dan beliau juga sudah menyerahkan semuanya kepada saya jika memang di tempat tersebut tidak nyaman dan tidak sehat.

Malmingku = Laporanku

Suka gak yang namanya  PR ???? suka gak cari referensi kesana kemari tuk buat laporan??? ehhhhmm ... borriiiing palagi Sabtu gini enaknya nonton pilm ... huhuhu ketinggalan Breaking Down ## lewaaatttt
cuma bisa bikin sinopsisnya saja buat ngisi mading skul, seharusnya kan muridnya yang bikin ckckckc  malah diserahin tugas dadakan, nasib Junior hahahaha

Yups bikin laporan Silabus dan RPP ***kan tinggal donlod aja???? ngapaen repot2 ***
^^parahnya lagi nih revisi terbatu dari direktorat^^  durung kelar di mbah google :(
*** kan tinggal copy paste ***
^^masalahnya kudu pake english, percuma copy paste^^
yaelah yaelah donlod aja and pake google terjemahan, mudah tow?
^^ Jiaaahhh pake curriculum Cambridge^^
byuhh byuuuh repot sangat ~~ dislike it

Alhasil dah ngerjaen opo onone .. hasil workshop 2 hari yang bikin otak tambah mules perut tambah demam badan pusing - pusing mual mual semua,,,, karena hasil RPP tidak sesuai dengan yang di Bintek 3 Bulan lalu, sepertinya kurikulum disini terlalu sistematis dan bikin ribet. Apalagi instansi pemerintah otoda yang semua muanya dikendalikan oleh kekuasaan daerah, jadinya nasib guru ada di tangan pemerintah daerah yang lambat akses distribusi informasinya!! Sayanganya saiyah tidah suka yang namanya ribet-ribet.. otak saya cenderung ke kanaaaan == imajinatip, kreatip, dan tak suka berbelit belit..













Rabu, 02 November 2011

Interior


Sepertinya  solusi utama masalah seseorang bisa diatasi di Mbah Google??? semua ada disini, tidak perlu jauh jauh ke toko buku, mengingat harga buku yang tidak murah, terutama harga buku tentang masakan dan desain interior,
sengaja ngisi waktu luang sambil browsing tentang property, lumayan tuk salurkan ilmu dari Pak Cipto Junaedy... seminar mahal yang pernah kuikuti, sayang sekali aku tidak pernah ikut gatheringnya gara" aku udah datang waktu acara tersebut tetapi gathering was canceled >:<

Rasanya stress sedikit terobati akibat melihat warna" desain interior, desain exterior, i really like it ... gunakan daya my high imagination, cita-cita masuk jurusan desain interior ITS yg gak ketulungan hahahaha rasanya balas dendam disini nihh.. pengen banget jadi arsitektur dari zaman SMA.. bermain-main dengan imajinasi warna adalah hobbyku, sampai - sampai gambaran seseorang di pikiranku semua berwarna.. Colour represents your feeling, It brings the happiness of your life.. you'll get more colorful representation through these colors, the more you love somebody the higher representation you have..






JAPAN vs INDONESIA

excited banget denger "Japan"
# KETIKA DI KENDARAAN UMUM #
Japan: orang2 pada baca buku atau tidur.
Indo: orang2 pada ngobrol, ngegosip, ketawa-ketiwi cekikikan, ngelamun, dan tidur.

# KETIKA MAKAN DI KENDARAAN UMUM #
Japan: sampah sisa makanan disimpan ke dalam saku celana atau dimasukkan  ke dalam tas, kemudian baru dibuang setelah nemu tong sampah.
Indo: dengan wajah tanpa dosa, sampah sisa makanan dibuang gitu aja di kolong bangku/dilempar ke luar jendela.

# KETIKA DI KELAS #
Japan: yang kosong adalah bangku kuliah paling belakang.
Indo: yang kosong adalah bangku kuliah paling depan.

# KETIKA DOSEN MEMBERIKAN KULIAH #
Japan: semua mahasiswa sunyi senyap mendengarkan dengan serius.
Indo: tengok ke kiri, ada yg ngobrol. tengok ke kanan, ada yg baca  komik. tengok ke belakang, pada tidur. cuman barisan depan aja yg anteng  dengerin, itu pun karena duduk pas di depan hidung dosen!

# KETIKA DIBERI TUGAS OLEH DOSEN #
Japan: hari itu juga, siang/malemnya langsung nyerbu perpustakaan atau browsing internet buat cari data.
Indo: kalau masih ada hari esok, ngapain dikerjain hari ini!

# KETIKA DI MASJID HENDAK SHALAT JUMAT #
Japan: jamaah berebut duduk di shaf terdepan.
Indo: jamaah berebut nyari tempat PW (Posisi Wuenak) di deket tembok  paling belakang biar bisa nyender/di bawah kipas angin biar gak  kepanasan & tidurnya nyenyak.

# KETIKA TERLAMBAT MASUK KELAS #
Japan: memohon maaf sambil membungkukkan badan 90 derajat, dan menunjukkan ekspresi malu + menyesal gak akan mengulangi lagi.
Indo: slonong boy & slonong girl masuk gitu aja tanpa bilang permisi ke dosen sama sekali.

# KETIKA NONTON KONSER BAND #
Japan: walau konser band rock cadas sekalipun kayak Dai atau X-Japan, penontonnya tetap tertib & gak anarkis.
Indo: jangankan band rock, konser sekelas band Peter Pan yg lagunya cengeng aja sampe makan korban jiwa!

# KETIKA DI JALAN RAYA #
Japan: mobil sangat jarang (kecuali di kota besar). padahal jepang kan  negara produsen mobil terbesar di dunia, mobilnya pada ke mana ya? Indo:  jalanan macet, sampe2 saya susah nyebrang & sering keserempet motor  yg jalannya ugal-ugalan.

# KETIKA JAM KANTOR #
Japan: jalanan sepiiiii banget, kayak kota mati.
Indo: PNS pake seragam coklat2 pada keluyuran di mall-mall.

# KETIKA BUANG SAMPAH #
Japan: sampah dibuang sesuai jenisnya. sampah organik dibuang di tempat  sampah khusus organik, sampah anorganik dibuang di tempat sampah  anorganik.
Indo: mau organik kek, anorganik kek, bangke binatang kek, semuanya tumplek jadi 1 dalam kantong kresek.

# KETIKA BARANG ELEKTRONIK RUSAK #
Japan: langsung dibuang ke tempat sampah atau didaur ulang.
Indo: diservis! sayang kan beli mahal2, mana kreditnya belum lunas lagi!

# KETIKA BERANGKAT KE KAMPUS/SEKOLAH #
Japan: berangkat ke sekolah/kampus naik kereta/bus kota.
Indo: berangkat ke sekolah pake mobil babeh atau yg dibeliin pake duit babeh! tetep aja babeh2 juga...!

# KETIKA BERANGKAT KE KANTOR #
Japan: berangkat naik kereta/bus kota. mobil cuma dipake saat acara keluarga atau yg bersifat mendesak aja.
Indo: gengsi dooonk... masa' naik angkot?!

# KETIKA JANJIAN BERTEMU #
Japan: ting...tong...semuanya datang tepat pada jam yg disepakati.
Indo: salah 1 pihak pasti ada dibiarkan sampai berjamur & berkerak gara2 kelamaan nunggu!

# KETIKA BERJALAN DI PAGI HARI #
Japan: orang2 pada jalan super cepat kayak dikejar doggy, karena khawatir telat ke kantor/sekolah.
Indo: nyantai aja cing...! si boss juga paling datengnya telat!

CATATAN: bukan bermaksud menjelek-jelekkan bangsa sendiri. saya pun  sadar bahwa saya seorang Indonesia. tapi ini hanya sebagai bahan  perenungan kita sebagai bangsa yang tentunya tidak mau terus terpuruk.  Maju atau mundurnya suatu bangsa itu bukan dikarenakan sumber daya alam  atau kecerdasan bangsanya semata, tapi lebih disebabkan oleh  ATTITUDEalias sikapnya! bagaimana mau jadi juara kalau bersikap seperti  pecundang? bagaimana mau jadi kaya kalau bersikap seperti orang miskin?  di balik cerita ini semua, tentunya sangat banyak hal positif bangsa  indonesia jika dibandingkan dengan jepang. tapi untuk apa membesar2kan  semua itu jika hanya membuat kita besar kepala! terus-menerus dinina  bobokan oleh ungkapan bahwa kita ini bangsa besar yg kaya sumber daya  alamnya, tapi buktinya? jelas sekali bangsa ini ada masalah besar dalam  hal ATTITUDE. makanya... ayo donk berubah!!! siapa lagi yang akan  melakukan perubahan itu jika bukan dimulai oleh kita sendiri?! kapan  lagi melakukan perubahan itu jika tidak dimulai sekarang juga?! tapi ane  tetap...hahahaa :D
gak ah, saya udah dari dulu berusaha berubah, kan imago??? :P

Kurikulum dan Kompetensi Guru di Jepang

Kurikulum dan Kompetensi Guru di Jepang

Situs Internet :
Ministry of Education, Culture, Sports, Science and Technology (MEXT)
(http://www.mext.go.jp/english/)

Materi ini diambil dari Makalah yang disampaikan pada Seminar Internasional di Semarang tgl 3 April 2010.

1. Pendahuluan
Pendidikan di lembaga sekolah tidak bisa berjalan jika hanya ada siswa, guru, bangunan dan fasilitas sekolah. Proses belajar mengajar dapat berjalan dengan baik jika materi belajar telah disepakati. Materi belajar tersebut tidak hanya berupa rangkaian kalimat yang menerangkan cakupan konten pembelajaran, tetapi juga memuat berapa lama harus diajarkan, tujuan pengajaran, dan bagaimana mengajarkannya. Inilah yang sering disebut sebagai kurikulum.
Tetapi kurikulum tidaklah sesederhana itu. Ada tiga tugas utama guru/pendidik di Jepang yaitu gakush
ū shidōu (membimbing pembelajaran), seito shidō (membimbing siswa), dan kōmubunshō (tugas administrasi/managerial sekolah). Membimbing pembelajaran maksudnya adalah mengajarkan mapel dan membina ekskul. Membimbing siswa maksudnya membina siswa untuk memiliki konsep berfikir yang manusiawi, membiasakan perilaku baik di dalam kehidupannya. Adapun tugas administrasi misalnya guru berperan sebagai penanggung jawab perlengkapan sekolah, memberikan bimbingan kelanjutan sekolah, dll. Agar pengejewantahan ketiga tugas/fungsi guru tersebut dapat berjalan dengan baik, maka perlu disusun perencanaan. Perencanaan itulah yang disebut kyouiku katei (rencana kurikulum) di Jepang.
Siapa yang harus membuat rencana kurikulum ? Pada sistem pendidikan tradisional, kurikulum disusun oleh lembaga pendidikan bersangkutan, namun dengan dijadikannya pendidikan sebagai bagian yang harus dikelola oleh negara, dan lembaga sekolah mulai diformalkan, maka otomatis penyusunan kurikulum pun menjadi tanggung-jawab pemerintah.Pembuatan kurikulum oleh pemerintah memungkinkan keseragaman lembaga pendidikan di seluruh negeri.Tetapi apa yang disusun oleh pemerintah hanyalah sebuah standar atau pembakuan yang selanjutnya merupakan acuan/pedoman dalam penyusunan kurikulum khas sekolah yang menjadi tanggung jawab kepala sekolah dan aparatnya.
Jepang sekalipun telah menstandarkan semua fasilitas pendidikannya dan sekaligus telah menerapkan standar kualifikasi minimal untuk para gurunya, sehingga pelaksanaan kurikulum di setiap lembaga sekolah boleh dikatakan seragam, tetap saja tidak bisa menjamin hasil pendidikan dengan mutu seragam. Perbedaan pemahaman dan intrepretasi terhadap reformasi pendidikan di kalangan para pendidik adalah hal wajar dan tidak bisa dihindari.
Pembaharuan kurikulum adalah hal yang mutlak terjadi, sebab pendidikan juga berjalan mengikuti zaman dan perubahan. Sama halnya dengan Indonesia kurikulum pun telah mengalami perubahan beberapa kali di Jepang. Perubahan tersebut mau tidak mau membawa dampak perubahan permintaan kualifikasi dan kompetensi pendidik di Jepang.
Makalah ini akan menganalisa reformasi pendidikan dan kurikulum yang telah berlangsung di Jepang sejak perang dunia kedua, sekaligus mengurai fakta serta alasan yang melatarbelakanginya.Dengan memahami karakteristik kurikulum tersebut, makalah ini akan menguraikan bagaimana guru dan pendidik dibina dan dikembangkan sejalan dengan perubahan yang berlangsung.

2. Reformasi Pendidikan di Jepang
Menurut Hara Kiyoharu (2007:3), reformasi pendidikan di Jepang telah berlangsung tiga kali yaitu, reformasi pada masa restorasi Meiji, reformasi sesudah PD II, dan reformasi menuju abad 21.
Reformasi pertama pada masa Meiji (1872-1890) membawa pendidikan di Jepang memasuki masa modern dengan diterapkannya sistem persekolahan yang terstruktur dan kesempatan luas bagi warganegara untuk mengakses pendidikan. Tetapi pendidikan pada masa ini masih terkotak-kotak antara pendidikan elitis dan pendidikan orang kebanyakan. Selanjutnya pada era Taish
ō (1912-1926) diperkenalkan pula pendidikan liberal yang dipengaruhi oleh paham liberalism yang berkembang di Amerika.
Reformasi kedua sesudah PD II intinya adalah penerapan wajib belajar dan penerapan pendidikan demokratis. Dengan adanya pembaharuan ini, jumlah siswa yang dapat mengakses pendidikan dasar meningkat dan pendidikan telah berubah dari pendidikan elit menuju pendidikan massal.
Reformasi ketiga dirancang oleh Chuuoukyouikusingikai dan Rinjikyouikusingikai, yaitu Tim Khusus yang ditunjuk oleh Perdana Menteri untuk membantu mencarikan pemecahan permasalahan pendidikan yang akan diusulkan kepada PM dan diterapkan oleh Menteri Pendidikan. Tahun 2001 Kementrian Pendidikan Jepang mengeluarkan rencana reformasi pendidikan di Jepang yang disebut sebagai “Rainbow Plan”.
1.Mengembangkan kemampuan dasar scholastic siswa dalam model pembelajaran yang menyenangkan. Ada 3 pokok arahan yaitu, pengembangan kelas kecil terdiri dari 20 anak per kelas, pemanfaatan IT dalam proses belajar mengajar, dan pelaksanaan evaluasi belajar secara nasional
2.Mendorong pengembangan kepribadian siswa menjadi pribadi yang hangat dan terbuka melalui aktifnya siswa dalam kegiatan kemasyarakatan, juga perbaikan mutu pembelajaran moral di sekolah
3.Mengembangkan lingkungan belajar yang menyenangkan dan jauh dari tekanan, diantaranya dengan kegiatan ekstra kurikuler olah raga, seni, dan sosial lainnya
4. Menjadikan sekolah sebagai lembaga yang dapat dipercaya oleh orang tua dan masyarakat. Tujuan ini dicapai dengan menerapkan sistem evaluasi sekolah secara mandiri, dan evaluasi sekolah oleh pihak luar, pembentukan school councillor, komite sekolah yang beranggotakan orang tua, dan pengembangan sekolah berdasarkan keadaan dan permintaan masyarakat setempat.
5.Melatih guru untuk menjadi tenaga professional, salah satunya dengan pemberlakuan evaluasi guru, pemberian penghargaan dan bonus kepada guru yang berprestasi, juga pembentukan suasana kerja yang kondusif untuk meningkatkan etos kerja guru, dan pelatihan bagi guru yang kurang cakap di bidangnya.
6.Pengembangan universitas bertaraf internasional
7.Pembentukan filosofi pendidikan yang sesuai untuk menyongsong abad baru, melalui reformasi konstitusi pendidikan kyouiku kihon hou) (MEXT, 2006).
Perubahan Jepang menjadi negara industri membawa dampak yang sangat besar dalam masyarakatnya. Negara Jepang yang mengalami kekalahan dalam PD II dan pada dasarnya tidak memiliki sumber daya alam yang memadai terpacu untuk membangun negerinya secara besar-besaran. Dapat dikatakan bahwa generasi kunci kemajuan Jepang adalah generasi yang lahir pada masa perang, atau kira-kira berumur 25-30 tahunan pada tahun 60-70an. Mereka mewarisi jiwa gambarism pendahulunya yang sukses menaklukkan beberapa negara di Asia.
Era 60-an ditandai pula sebagai era shinkansen, transportasi super cepat. Rel-rel dibangun melintasi wilayah Jepang sekalipun pada waktu itu banyak sekali protes dari masyarakat. Tetapi proyek shinkansen akhirnya membawa kemajuan ekonomi Jepang semakin pesat, sekaligus meningkatnya kompetisi dalam masyarakat Jepang yang semula dikenal sangat homogen.

3. Reformasi Kurikulum di Jepang
Kurikulum sekolah di Jepang disusun oleh bagian perencanaan kurikulum yang terdapat dalam Kementrian Pendidikan (MEXT). Panduan kurikulum di sekolah disebut Gakush
ū shidōyōryō (GS) yang diakui secara hukum, sehingga pelanggaran terhadapnya akan dikenai sanksi hukum. GS merupakan panduan kurikulum untuk SD (shōgakkō), SMP (chūgakkō), SMP-SMA satu atap (chūtōkyōikugakkō), SMA (kōtōgakkō), dan SLB (tokubetsushiengakkō). Sedangkan untuk panduan kurikulum Taman Kanak-Kanak (yōchien) disebut yōchienkyouikuyōryō[1].
Panduan kurikulum yang pernah berlaku di Jepang adalah GS 1947, GS 1951, GS 1961, GS 1971, GS 1980, GS 1992, dan GS 2002. Penamaan tersebut berdasarkan tahun penerapannya di level SD. Sebagai contoh, kurikulum 1947 adalah kurikulum yang disusun dua atau tiga tahun sebelumnya, dan diterapkan secara tuntas di level SD pada tahun 1947. Pengecualian untuk kurikulum SMA yang mengalami pembaharuan juga pada tahun 1956.
Kurikulum yang rencananya akan diterapkan pada dekade selanjutnya adalah GS 2011. Penyusunan dan publikasi kurikulum ini dilakukan tiga tahun sebelum diterapkan. Misalnya untuk reformasi kurikulum SD yang direncanakan akan diterapkan pada tahun 2011 dan SMP yang akan diterapkan tahun 2012, telah terselesaikan penyusunannya pada 28 Maret 2008. Sementara itu kurikulum untuk SMA dan SLB yang akan diterapkan tahun 2013 telah diselesaikan penyusunannya dan diumumkan ke publik untuk mendapatkan masukan pada 9 Maret 2009.
Kurikulum pertama, GS 1947 adalah kurikulum yang banyak dipengaruhi oleh reformasi pendidikan pasca perang. Beberapa mata pelajaran pada jaman sebelum perang seperti sh
ūshin (mental/spirit education), geografi (chiri) dan sejarah (rekishi) dihapus di level SD[2], dan mapel baru diperkenalkan yaitu IPS dan Jiyūkenkyū (penelitian bebas), serta pelajaran keterampilan (homemaking) diberikan tanpa membedakan jenis kelamin siswa (co-education)[3].


[1] TK di Jepang lebih cenderung merupakan lembaga pengembangan dan pelatihan kebiasaan sehari-hari, oleh karena itu pendidikan di level TK bukanlah pengajaran (gakush
ū), tetapi lebih tepat disebut kyōiku (pendidikan)
[2] Mapel ini diberikan pula di Kokumingakk
ō (Sekolah Rakyat) di Indonesia pada masa pendudukan Jepang.
[3] Homemaking pada masa sebelum PD II diajarkan terpisah, sebagaimana kita ketahui SD, SMP dan SMA pada masa pendudukan Jepang di Indonesia juga menerapkan sistem pemisahan siswa dan siswi.

4. Sifat dan Karakteristik Kurikulum Jepang
a. SD
Kurikulum SD di Jepang hampir sama dengan kurikulum SD di Indonesia. Perbedaan nyata terlihat pada mata pelajaran seikatsuka (kebiasaan hidup) yang diajarkan di kelas 1 dan 2. Mapel ini bertujuan untuk membiasakan anak-anak dengan cara hidup mandiri sehari-hari. Daripada mulai mengajarkan IPA atau IPS, Jepang lebih memilih memperkenalkan tata cara kehidupan sehari-hari kepada anak-anak yang baru menyelesaikan pembelajaran di TK yang lebih memfokuskan kegiatan bermain daripada belajar di dalam kelas.
Pembelajaran bahasa Jepang dan berhitung diajarkan lebih banyak dibandingkan pelajaran lainnya. Pendidikan OR juga menjadi mapel yang diajarkan dalam jumlah yang melebihi mapel lainnya selain bahasa dan berhitung. Adapun pendidikan moral diajarkan tidak secara khusus dalam mapel tertentu, tetapi diajarkan oleh wali kelas sejam seminggu atau diintegrasikan melalui pembelajaran mapel lain. Sekolah-sekolah agama diperkenankan mengajarkan agama (Kristen, Buddha, Sinto) sebagai bagian dari pendidikan moral. Selain pendidikan akademik, pendidikan estetika berupa musik dan menggambar juga diajarkan dalam porsi besar di kelas 1 dan 2.

. SMP
Kurikulum SMP juga menitikberatkan pada pendidikan bahasa Jepang, matematika, IPA dan IPS. Pelajaran bahasa asing diajarkan dalam bentuk mapel pilihan, di antaranya bahasa Inggris, bahasa Perancis, dan bahasa Jerman. Pelajaran bahasa Inggris baru dijadikan mapel wajib di level SMP pada kurikulum 2002.
Pendidikan kesehatan jasmani diajarkan dalam jumlah jam belajar yang sama dengan SD (90 jam), tetapi berbeda dengan SD, pendidikan kesehatan di SMP terdiri atas Olahraga dan pendidikan jasmani.
Adanya mata pelajaran pilihan di SMP, yaitu bahasa Jepang, IPS, Matematika,IPA,Musik, Art, Pendidikan Jasmani Kesehatan, Keterampilan/ Homemaking, dan bahasa Asing, merupakan perbedaan khas antara kurikulum SMP di Indonesia dan Jepang. Alokasi waktu pembelajaran integrated course juga diberikan lebih besar dibandingkan dengan mapel yang sama di SD.
Pendidikan dasar di Jepang juga dilengkapi dengan tokubetsukatsudou yang dapat diterjemahkan sebagai aktivitas khusus atau semacam ekstra kurikuler di Indonesia, tetapi agak berbeda karena kegiatan ini meliputi OSIS, kegiatan kelas, kegiatan klub olahraga dan seni, event sekolah dan pendidikan moral. Event sekolah seperti festival sekolah (gakkousai) dipersiapkan per kelas dengan bimbingan penuh dari wali kelas.

c. SMA
Dibandingkan kurikulum SD dan SMP, kurikulum SMA di Jepang paling sering berubah. Perubahan tampak pada nomenklatur mapel, kategorisasi, dan sistem penjurusan. Sifat khas kurikulum SMA adalah kompleksnya mapel yang diajarkan.
Pelajaran bahasa Jepang tidak saja dibedakan atas tatabahasa dan sastra, tetapi dikelompokkan lebih detil lagi menjadi pendidikan bahasa Jepang, literature klasik dan literature modern. Bahasa Asing sebelum kurikulum 2002 masih memperkenalkan bahasa Jerman dan bahasa Perancis, tetapi sejak kurikulum 2002 yang dimaksud dengan bahasa asing adalah bahasa Inggris yang diajarkan dalam secara detil.
Penjurusan dilakukan sejak kelas 3 SMA, dan jurusan yang ada pada dasarnya adalah jurusan rika (IPA) dan bunka (budaya/sosial). Tetapi penjurusan mengalami perkembangan semenjak semakin banyak lulusan SMA yang memilih akademi atau college dan memilih bekerja.Penjurusan dikembangkan dengan beragam mapel yang terkait dengan teknik, pertanian,perikanan, kesejahteraan masyarakat, dll.Beberapa sekolah membagi lebih detil lagi penjurusan menjadi Jurusan yang dipersiapkan untuk menghadapi ujian masuk universitas negeri dan Jurusan yang memilih universitas swasta. Misalnya, Rika A adalah kombinasi jurusan IPA dan persiapan ujian masuk PTN. Selain integrated course, pelajaran IT juga baru dimasukkan dalam kurikulum 2002.

d. Yutorikyouiku, 5 hari sekolah, Ikiru chikara, dan S
ōgotekina gakushū jikan
Kurikulum SD cenderung statis dari segi perubahan mata pelajaran, tetapi terlihat kecenderungan penurunan jumlah jam belajar per tahun. Penurunan jam pelajaran ini terlihat secara nyata sejak tahun 1980, yaitu ketika yutorikyouiku mulai diperkenalkan.Kurikulum 1971 adalah kurikulum yang sangat sarat materi sementara sekolah-sekolah di Jepang belum memadai baik dari segi fasilitas maupun kemampuan guru-gurunya. Sehingga kurikulum tersebut terlalu memberatkan dan kurang berhasil. Oleh karena itu muncullah ide untuk memberikan pendidikan yang lebih mementingkan keleluasaan waktu dan ruang. Itulah yang disebut yutorikyouiku. Jumlah jam pelajaran SD per tahun berkurang sebanyak 36 jam, dan SMP sebanyak 385 jam.
Pelaksanaan yutorikyouiku membawa dampak yang kurang bagus kepada anak-anak Jepang. Guru-guru Jepang tidak semuanya siap dan dapat memahami konsep yutorikyouiku dengan baik. Tindakan memberikan ruang dan waktu kepada siswa SD dan SMP memang terbukti dapat mengurangi rasa stress siswa akibat pelaksanaan kurikulum yang ketat sebelumnya, tetapi sekaligus menyebabkan minat belajar yang menurun. Kedisiplinan mulai mengendor, dan beberapa pihak mulai memprotes sistem yutorikyouiku.
Yutorikyouiku telah disalahartikan dalam penerapannya. Sistem pendidikan ini sebenarnya bukan bermaksud mengendorkan kedisiplinan tetapi hanya mengurangi materi belajar yang memberatkan pada setiap mapel. Dengan sistem ini diharapkan anak-anak dapat berkembang sesuai dengan minat dan kesukaannya. Pembelajaran di sekolah seharusnya diselenggarakan secara lebih menyenangkan. Oleh karena itu istilah tanoshii jugyou (kelas yang menyenangkan) juga diperkenalkan sebagai salah satu alternatif implementasi yutorikyouiku. Tetapi banyak guru yang kesulitan menciptakan kelas yang menyenangkan, atau sebaliknya guru terpaku pada kata menyenangkan, sehingga mengurangi kedisiplinan dan motivasi belajar siswa. Akibat akhirnya justru berdampak pada menurunnya prestasi akademik siswa-siswa Jepang.
Indikator pemerintah untuk mengukur keberhasilan pendidikan di Jepang adalah pengukuran internasional yang diselenggarakan negara-negara OECD, yaitu PISA dan TIMMS, sebab Jepang tidak menerapkan sistem ujian nasional. Pada tahun 1995, prestasi siswa SD dan SMP Jepang menempati urutan pertama, namun tahun-tahun selanjutnya mengalami penurunan. Pemerintah dan masyarakat mulai meragukan proses pendidikan di sekolah, dan guru-guru mendapat sorotan yang tajam sebagai pihak yang tidak mampu mendidik dengan baik.
Dalam rangka pelaksanaan yutorikyouiku, pemerintah juga menerapkan 5 hari sekolah, yaitu dari hari Senin sampai Jumat. Tujuan kebijakan ini adalah agar siswa dapat lebih banyak menghabiskan waktunya dengan keluarga dan belajar lebih banyak di lingkungannya pada akhir pekan. Akan tetapi alih-alih belajar di lingkungan atau di keluarga, anak-anak dan orang tuanya justru kurang memahami hal ini, sehingga anak-anak bermain game di rumah, ikut ibunya berbelanja, atau banyak juga anak yang malah memanfaatkan waktu tersebut untuk ikut berbagai les privat.
Anak-anak yang memanfaatkan waktu liburnya dengan belajar, tentu saja memiliki prestasi akademik yang baik pula, tetapi sebagian besar anak justru menghabiskan waktu untuk bermain, sehingga wajar saja prestasi akademik anak-anak kemudian menurun.
Dengan hasil PISA yang mengecewakan, pemerintah kemudian mengeluarkan kebijakan untuk melaksanakan kembali gakuryoku tesuto (tes kemampuan akademik) tahun 2007, yang sebenarnya pernah dilaksanakan pertama kali pada tahun 1960, tetapi kemudian dihentikan pada tahun 1968 karena kenyataannya wilayah/distrik secara alami memiliki perbedaan dari sumber daya yang kemudian mengakibatkan perbedaan pelaksanaan pendidikan. Kebijakan ini dilaksanakan kembali setelah tidak berjalan kurang lebih 43 tahun.
Karakteristik kurikulum Jepang yang lainnya adalah ide ikiru chikara dan s
ōgōtekina gakushū jikan. Konsep ikiru chikara adalah konsep yang hendak membudayakan jiwa dan melatih kekuatan dan kemampuan untuk hidup di tengah masyarakat. Konsep ini dijabarkan sebagai hal yang harus dididikkan untuk mempersiapkan generasi muda Jepang memasuki abad 21.
Konsep ikiru chikara selanjutnya diikuti dengan kebijakan s
ōgōtekina gakushū jikan pada kurikulum 2002. Konsep sōgōteki gakushū jikan adalah konsep pembelajaran tematik, mengajak siswa untuk mengenal lingkungan, budaya dan alam sekitarnya, kehidupan masyarakat, ekonomi desanya, industri yang ada di lingkungan tinggalnya.
Implementasinya misalnya, sebuah sekolah menerapkan weekly trial, yaitu kesempatan bagi anak-anak untuk mencoba menjadi penjual, nelayan, pelayan di restoran, dll.
Pada dasarnya pemahaman guru terhadap s
ōgōteki gakushuu jikan menurut Kiyohara (2007) masih sangat rendah. Beberapa sekolah yang tidak memiliki konsep yang baik, terpaksa meniru penerapan di sekolah lain.Konsep sōgōtekina gakushū jikan bukan sekedar belajar di luar buku pelajaran atau pembelajaran ekstra kurikuler, tetapi dalam penerapannya anak-anak tetap harus diasah dan diuji kemampuan kerja otak, jiwa, dan tubuhnya. Oleh karena itu ketika berperan sebagai nelayan misalnya, mereka belajar prinsip-prinsip matematika, belajar berkomunikasi dengan baik, belajar tentang ilmu bumi dan cuaca. Bukan sekedar pengalaman kerja (lih.Ramli, 2008a).
Pertukaran budaya asing (internasionalisasi) termasuk wacana yang diusung dalam sougotekina gakush
ū jikan. Pengenalan terhadap budaya asing diberikan melalui presentasi mahasiswa asing di kelas-kelas TK, SD, SMP, dan SMA. Ini bisa dilakukan dengan mengedarkan permintaan kepada universitas-universitas di daerah setempat. Siswa-siswa juga diminta mencari informasi sebanyak mungkin tentang negara asing dan menyusun sebuah presentasi. Beberapa sekolah menerjemahkan pembelajaran budaya asing ini dengan misalnya mengumpulkan bantuan untuk anak-anak korban bencana di Indonesia, seperti yang dilakukan oleh beberapa sekolah di Aichi.

5. Impelementasi Kurikulum dan Kompetensi Guru
Pedoman pembelajaran/kurikulum harus diramu di sekolah agar menjadi bahan ajar yang cocok dengan kondisi siswa dan sekolah. Pekerjaan meramu ini bukan pekerjaan yang mudah dan banyak guru yang gagal, lalu hanya sekedar meniru ramuan sekolah lain. Proses peramuan memerlukan analisa dan survey yang detil tentang kondisi dan potensi siswa dan sekolah (termasuk guru).Oleh karena itu untuk menerapkan hal ini, pertama, sekolah-sekolah di Jepang mengembangkan survey sekolah secara berkala (lih.Ramli,2009). Survey yang diselenggarakan termasuk dalam rangkaian evaluasi sekolah, misalnya survey tentang kesehatan siswa, kebiasaan sehari-hari, jam belajar siswa, dll.Kedua, sekolah (guru) mempelajari potensi daerah yang selayaknya diajarkan kepada siswa. Setelah pemahaman ini ditangkap, kepala sekolah dan guru mengontak pihak terkait untuk bekerja sama menerapkan kurikulum yang diinginkan. Ketiga, membicarakan penerapannya dengan pihak orang tua yang tergabung dalam Parent Teacher Association (PTA).
Termasuk dalam pembinaan kompetensi aparat sekolah dan guru adalah kewajiban untuk membuat laporan tertulis. Sistem pelaporan ini sekaligus melatih guru untuk mengembangkan kemampuan menulis ilmiah. Terkadang laporan tersebut dikembangkan sebagai penelitian terpadu dan dipresentasikan di seminar-seminar.
Sebagaimana dikritik oleh beberapa pakar pendidikan bahwa kebanyakan kebijakan pendidikan yang dikeluarkan oleh pemerintah Jepang muncul bukan dari pemikiran bawah. Oleh karena itu banyak yang tidak bisa diterapkan di sekolah secara optimal, dan pada akhirnya mendapat protes keras dari Teacher Union (Nikkyouso dan Zenkyou).
Ketidakmampuan guru-guru di Jepang untuk segera dapat menerjemahkan keinginan pemerintah/pembuat kebijakan barangkali karena konsep-konsep baru yang diadopsi berbeda dengan konsep yang mereka pelajari saat mengikuti pendidikan guru. Guru-guru di Jepang adalah lulusan dari Normal School (semacam SPG), Kyouiku daigaku (Educational College), atau Fakultas Pendidikan Universitas.
Sistem sertifikat mengajar telah dikembangkan di Jepang sejak tahun 1886, yang hanya diberikan kepada guru yang lolos dalam ujian seleksi guru. Guru-guru tersebut bertugas di Ordinary Normal School, Ordinary Middle School, dan Girl High School.
Jenis sertifikat ada empat, yaitu sertifikat kelas satu, kelas dua, kelas tiga dan non kelas. Perubahan jenis sertifikat dapat terjadi jika seorang guru telah memiliki pengalaman mengajar. Pada tahun 1892, pemberian sertifikat kepada guru pengajar ordinary normal school dibuat secara terpisah, dengan tetap mempertahankan sertifikat kelas satu dan kelas dua. Sedangkan kelas tiga dan non kelas diberikan kepada asisten guru. Pelaksanannya berlangsung dua tahap, yaitu tahap pertama secara otomatis pemilik gelar sarjana atau lulusan sekolah keguruan memperoleh sertifikat kelas satu, tanpa atau dengan mengikuti ujian khusus untuk menjadi guru, sedangkan non lulusan sekolah keguruan atau kesarjanaan yang mengikuti ujian guru dan lolos akan memperoleh sertifikat kelas dua.Tahap kedua diberikan setelah mengabdi beberapa tahun sebagai guru (lih.Ramli,2008b).
Tahun 1894 lahir peraturan sertifikasi baru yang tidak mengkelas-kelaskan jenis sertifikasi, tetapi memberikan lisensi mengajar kepada semua lulusan universitas umum dan universitas khusus wanita (yang berkecimpung di bidang pendidikan keguruan. Hanya ada satu di Jepang waktu itu, yaitu di Nara).Tahun 1896, hak memberikan sertifikasi guru diberikan sepenuhnya kepada rektor universitas. Tahun 1899 berlaku peraturan sertifikasi untuk lulusan universitas negeri maupun swasta, college, dan universitas asing.Tahun 1990 sistem sertifikasi sepenuhnya dipegang oleh MEXT dan lisensi hanya diberikan kepada lulusan sekolah keguruan atau fakultas pendidikan universitas. Bagi non lulusan fakultas pendidikan diperkenankan mengikuti ujian seleksi yang penanganannya dilakukan oleh komite khusus sertifikasi guru (MEXT, 2007).
Monbukagakusho memberlakukan sistem `school councillor`, yang pada tahun 2003 tercatat hampir 7000 sekolah memiliki badan ini. Pemerintah juga menganjurkan sekolah untuk lebih terbuka kepada masyarakat dan orang tua melalui pelaksanaan evaluasi sekolah oleh pihak luar sekolah (gaibu gakkou hyouka), yang dengan ini pula sekolah harus lebih transparan dalam mengungkapkan proses belajar mengajar di sekolah, juga admnistrasi dan manajemen sekolah.
Sistem sertifikasi ulang yang dikenal dengan `ky
ōinmenkyokōsinsei` (=sistem pembaruan sertifikasi guru) tidak saja merupakan jawaban terhadap perubahan sosial masyarakat tetapi juga sebagai salah satu instrument pelengkap pelaksanaan sekolah yang terbuka kepada konsumernya.Dengan kebijakan ini, guru-guru diharuskan untuk mengikuti `training penyegaran` setiap 10 tahun sekali. Dalam definisi
Monbukagakusho, kriteria guru yang bermutu harus disesuaikan dengan era global dan perubahan struktur masyarakat Jepang yaitu, karena semakin panjangnya daya hidup orang Jepang dan semakin menurunnya jumlah kelahiran, yang menyebabkan masyarakat Jepang menuju kepada `aging society`, yaitu masyarakat dengan populasi penduduk usia tua lebih banyak daripada penduduk usia muda.
Ide untuk melaksanakan sertifikasi ulang terhadap lisensi mengajar bukan hal yang mudah diterima oleh kalangan guru di Jepang, apalagi data guru yang tidak layak mengajar (shid
ō fuzoku kyouin) sebagian besar adalah guru-guru senior. Sebagaimana dipahami masyarakat Jepang sangat menghormati system senioritas, terbukti dengan adanya sistem gaji berdasarkan senioritas dan masa kerja yang lama, pun juga berbagai kelebihan dalam dunia bisnis yang dimiliki oleh senior. Gaji guru yang telah bekerja 20 tahun di Jepang lebih besar daripada gaji guru yang sudah bekerja 5 tahun. Dalam bisnis di Jepang pun sangat mudah terjadi transfer pekerjaan dari satu tempat ke tempat lain, baik dalam perusahaan yang sama ataupun perusahaan yang berbeda bidang.Sistem training di dalam tempat bekerja pun menjadi hal yang lazim (Watanabe & Edwin,1993).
Sistem pengembangan profesionalisme guru di Jepang juga menganut sistem senioritas, yaitu guru-guru senior berkewajiban membimbing guru-guru baru. Penulis hendak mengutip apa yang pernah penulis tuliskan dalam blog Berguru, blog tentang pendidikan Jepang dan Indonesia yang penulis buat sebagai berikut :
“Tradisi pelatihan guru muda di Jepang tidak berubah, yaitu setahun pertama semua guru fresh graduated harus menjalani in-service training, untuk mengenali semua tugas dan kewajiban administratur sekolah (kepala sekolah, wakasek, dan pejabat lain), serta memahami tugas guru. Penulis pernah membaca sebuah laporan hasil training seorang guru muda dan sangat mengagumkan karena guru tersebut menuliskan secara detil apa saja kegiatan yang harus dilakukannya detik per detik sejak dia datang ke sekolah hingga pulang. Dan yang lebih mencengangkan, dia telah mengamati seharian kerja wakasek, sehingga secara detil mengurutkan apa yang harus dilakukannya setiap hari. Di sekolah-sekolah Jepang, orang yang paling sibuk sehari-harinya adalah wakasek. Wakasek hanya ada satu orang, dan dia yang bertugas mulai dari mengecek bel sekolah sampai mengagendakan kegiatan harian kepala sekolah.
Barangkali tidak sama dengan Indonesia yang guru-guru mudanya lebih “berani” berkata keras atau berselisih paham dengan guru senior, di Jepang hal ini hampir tidak pernah ditemukan. Tradisi yang kuat berakar bahwa senior harus didengarkan dan dihormati masih terus dipegang, dan orang yang menentangnya akan segera dikucilkan.Lalu bagaimana kalau berselisih paham? Jika memiliki ide baru, si guru muda harus membuktikannya dalam perbuatan dulu. Maksudnya tidak sekedar dalam taraf ucapan, tapi harus sampai pada taraf aplikasi. Dan satu hal yang harus diingat, kalimat dan ucapan yang harus dipergunakan ketika berbicara dengan guru senior adalah kalimat yang sangat sopan. Biasanya lulusan perguruan tinggi telah belajar sistem penghormatan kepada senior di level SMA dan di PT.
Sama halnya dengan Indonesia, tidak semua guru senior di Jepang adalah guru yang baik. Tetapi sistem pendidikan guru dan perekrutannya sudah diusahakan baik, maka harapannya jika sistem berjalan baik, tentunya akan meraih sukses seperti yang dimaui. Ibaratnya kita membicarakan hukum pemberantasan korupsi, jika hukumnya telah baik, maka tinggalah mendidik agar oknumnya 50% lebih mematuhi dan menjalankan hukum itu. Dan saya berani menyimpulkan bahwa 50% lebih guru Jepang menjalankan sistem dengan baik. Guru senior berkewajiban mendidik guru junior. Tentu saja jika guru seniornya kurang baik, maka hasilnya bisa saja guru junior pun kurang baik, atau bisa juga guru junior mampu memperbaiki diri. Tapi pola pembinaan senior junior adalah mutlak dilakukan”.

6. Kesimpulan
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kurikulum di Jepang memiliki karakteristik pengembangan yang berusaha menyesuaikan kondisi dan pemikiran masyarakat Jepang. Perubahan tersebut juga mengikuti perkembangan yang terjadi di dunia internasional. Perubahan kurikulum di fase awal pasca perang dunia kedua berlangsung dalam waktu yang singkat, sementara perubahan selanjutnya berlangsung 10 tahunan. Penyusunan kurikulum telah diselesaikan tiga tahun sebelum dipublikasikan kepada khalayak untuk mendapatkan masukan, dan selanjutnya diterapkan secara bertahap di sekolah. Kurikulum pendidikan dasar (SD) tidak mengalami perubahan yang drastis, namun kurikulum pendidikan menengah (SMP dan SMA) cukup berkembang sesuai zamannya.
Namun tidak semua perubahan tersebut dapat dimengerti oleh guru dengan baik. Untuk mempersiapkan guru dengan kompetensi dan kualifikasi dasar yang sama, pemerintah Jepang telah mempersiapkan sistem penerimaan guru yang sistematis dan berlaku dalam waktu yang panjang dan program pelatihan guru baru, in-service training yang terus menerus.
Kompetensi guru diperbaharui melalui program pembaruan sertifikasi guru yang berlangsung per sepuluh tahunan, dan proses komunikasi, konsultasi dan pelaporan.Melalui program ini, perubahan-perubahan dalam kurikulum Jepang dapat dimasyarakatkan di kalangan guru.


Referensi :
Hara, K. 2007. Gakk
ō kyōikukateiron. Tokyo: Gakkobunsya
Watanabe, A. and Edwin L. Herr. 1993. “Career Development Issues Among Japanese Work Groups.” Journal of Career Development, Vol. 20, pp 61-72
Ramli,M. 2008a. Apa Yang Seharusnya Diajarkan Kepada Anak Tentang Kota Dan Transportasi ? Inovasi Online, 10 (10), pp. 61-66.PPI Jepang
———-. 2008b. Kebijakan Evaluasi Guru di Jepang,Educationist,2(2), pp.112-122. Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung bekerjasama dengan LPTKI
———-. 2009.Membina Siswa dan Sekolah Sehat di Jepang.Inovasi Online,13(22), pp.35-47.PPI Jepang

Selasa, 01 November 2011

Scholarship

Salah Satu cara lari dari masalah yaitu Browsing.. actually I have no problem, feeling bored with my activities Dibilang kerja setoran, workaholic, cari duit buat nikah is up to them, by doing these activities I hope I can forget all these stuff.. stay at home alone without friends makes me so bored and sad, i have so many dream that I haven't reach yet..; that is " getting a scholarship is my dream" You can visit these web

http://beasiswaluarnegeri.com/university_of_sydney_world_scholars_2011_2012 http://the-scholarship.info/?gclid=CO_tk96dl6wCFYF66wodgBRNOw http://www.schoolofenglish.org.uk/offer/ http://pertheducationcity.com.au/Bahasa-Indonesia/?gclid=CJyXjpecl6wCFcYc6wod00M2PA http://www.international.mq.edu.au/scholarships?gclid=CMH66NSgl6wCFY0c6wodhTg0OA http://www.international.mq.edu.au/scholarships?gclid=CMH66NSgl6wCFY0c6wodhTg0OA http://brighteduc.com/2010/12/14/cookery-culinary-jurusan-masak-lulusannya-mudah-bekerja-di-new-zealand/ http://www.international.mq.edu.au/scholarships/govt http://exchanges.state.gov/englishteaching/forum-journal.html